Nabi Ibrahim: Makna Kurban yang Sebenarnya

Di sebuah desa kecil tepi laut Jawa, malam Idul Adha datang bersama angin dingin yang berembus pelan dari arah pantai, membawa aroma asin dan gema takbir yang mengalun panjang dari masjid tua dekat dermaga. Jalanan utama tampak hidup oleh tawa anak-anak, cahaya obor yang bergerak di kejauhan, serta suara petasan-petasan kecil yang sesekali pecah di antara rumah-rumah kayu.
Dan, di antara ramainya malam itu, seorang anak laki-laki bernama Akram justru duduk diam di halaman rumah, memeluk lutut seraya menatap seekor kambing cokelat yang terikat di samping pohon kelapa.
Sesekali kambing itu mengembik pelan, “mbee…, mbee…”
Namun Akram hanya terdiam dengan wajah murung. Biasanya, ia paling semangat menyambut malam takbiran dan selalu ikut berkeliling kampung bersama teman-temannya. Akan tetapi, kali ini berbeda. Sejak sore tadi, ia memilih tetap tinggal di rumah.
“Duk… Duk… Duk…”
Suara langkah kaki terdengar pelan dari dalam rumah kayu itu. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok wanita paruh baya dengan selendang tipis di bahunya. Wajahnya tampak hangat diterpa cahaya lampu teras yang redup.
Ia adalah Anita, Ibu Akram.
Perempuan itu melangkah mendekat lalu duduk perlahan di samping anaknya. “Ada apa, Nak?” tanyanya lembut.
Akram menggeleng pelan. Anita tersenyum kecil, “kok kelihatan nggak semangat gitu? Tidak biasanya kamu diam di rumah saat malam takbiran.”
Akram tetap terdiam, menatap sendu kambing cokelat di hadapannya.
“Itu Anton sama Riko lagi keliling kampung,” ucapnya seraya mengusap pelan rambut anaknya, “kamu nggak mau ikut?” lanjutnya.
“Nggak dulu, Bu…,” jawab Akram lirih, hampir tenggelam dengan gema takbir.
Anita memperhatikan wajah anaknya cukup lama. Sesekali matanya melirik ke arah kambing cokelat itu.
“Akram kepikiran ya dengan nasib kambing itu?” tanyanya hati-hati.
“Jono…, namanya Jono, Bu,” ucapnya pelan.
Anita menahan senyum kecil. Ia sedikit terkejut karena ternyata diam-diam anaknya sudah memberi nama pada kambing yang dirawat mereka selama seminggu terakhir itu.
“Hehe…, iyaa maaf yaa…,” balas Anita lembut, “Akram kepikiran ya sama nasib Jono besok?” lanjutnya.
Akram menunduk pelan. Jemarinya sibuk memainkan tali celananya sendiri.
“Iyaa,” jawabnya lirih. “Besok Jono harus banget dibawa ke Masjid, Bu?”
Anita memandang anaknya beberapa saat sebelum mengangguk perlahan, “iya, Nak. Dari awal Jono kan memang Ayah beli untuk kurban. Akram juga sudah tahu itu, kan?” ucap Anita.
Akram terdiam, tatapannya kembali jatuh ke Jono yang sejak tadi berdiri mengembik pelan di samping pohon kelapa.
“Memangnya kenapa?” tanya Anita.
“Aku kasihan sama Jono…,” ucap Akram pelan, “setiap hari aku yang kasih dia makan, memandikan dia, bahkan kadang aku cerita berbagai hal ke dia. Rasanya… seperti punya saudara.”
Anita tersenyum tipis. “Jadiii…, Akram sudah sayang ya sama Jono?”
Akram mengangguk kecil. Ia berdiri lalu melangkah mendekat ke arah kambing itu, mengusap lembut bulu di kepalanya. Entah kenapa, semakin membayangkan apa yang akan terjadi esok pagi, dadanya terasa sesak sampai air mata perlahan turun membasahi pipinya.
“Aku nggak tega kalau besok Jono dikurbankan,” gumamnya lirih, “aku masih ingin merawatnya, Bu…” rengeknya.
Angin laut malam kembali berembus pelan, sementara gema takbir masih terdengar mengalun panjang di bawah langit yang semakin gelap. Anita ikut berdiri lalu berjalan menghampiri anaknya. Ia mengusap pundak Akram dengan lembut.
“Akram tahu tidak cerita tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail?” tanyanya.
Akram menggeleng.
“Dulu, ada seorang nabi bernama Ibrahim yang dikenal sangat taat kepada Allah. Ia sudah menghadapi banyak ujian, mulai dari dimusuhi kaumnya karena menolak menyembah berhala, dibakar hidup-hidup oleh rajanya, sampai harus meninggalkan kampung halamannya untuk mempertahankan keimanan kepada Allah,” lanjut Anita pelan.
Akram mendengarkan.
“Namun dari sekian banyak ujian itu,” lanjut Anita, “ada satu kesedihan yang sangat lama beliau simpan dalam hatinya.”
“Apa itu, Bu?” tanya Akram pelan.
“Beliau belum memiliki anak,” jawab Anita, “setelah menikah bertahun-tahun dengan perempuan salihah bernama Sarah, ternyata Allah belum juga memberi mereka keturunan, padahal usia mereka terus bertambah tua, rambut mulai memutih, tetapi tidak pernah sekali pun mereka berhenti berdoa.”
“Karena memahami betapa besar keinginan suaminya untuk memiliki keturunan, Sarah akhirnya mengikhlaskan beliau menikah lagi dengan perempuan baik bernama Hajar dan dari pernikahan itulah lahir seorang anak laki-laki bernama Ismail.”
“Nabi Ibrahim sangat bahagia sebab setelah penantian panjang, akhirnya Allah mengabulkan doanya. Namun tak lama kemudian, Allah kembali mengujinya dengan memerintahkan beliau membawa Hajar dan Ismail yang kala itu masih bayi ke sebuah lembah tandus tanpa rumah, pepohonan, bahkan hampir tidak ada air. Tempat itu kini dikenal sebagai kota Makkah.”
“Singkat cerita, ketika persediaan air habis, Hajar sangat khawatir karena Ismail kecil terus menangis kehausan. Ia berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah mencari air, tetapi tidak menemukan apa pun. Hingga akhirnya, Allah menunjukkan pertolongan-Nya. Dari dekat kaki Ismail kecil, tiba-tiba terpancar mata air yang jernih, yang sekarang dikenal sebagai air zam-zam.”
“Namun, ujian tidak berhenti sampai di situ. Waktu terus berjalan hingga Ismail tumbuh menjadi anak yang baik dan taat. Dan pada suatu malam, Nabi Ibrahim mendapat wahyu dari Allah agar menyembelih Ismail dan itu menjadi ujian terbesar selanjutnya baginya.”
Akram terkejut dan langsung menoleh cepat ke arah Anita, “hahhhh? Menyembelih??? Maksudnya bagaimana, Bu? Nabi Ismail disembelihhh?”
Anita tersenyum lembut, “Coba Akram bayangkan, betapa sedihnya hati Nabi Ibrahim ketika mendengar perintah itu? Di satu sisi itu adalah perintah Allah, tetapi di sisi lain Ismail adalah anak yang sangat lama ia nantikan.”
“Terus akhirnya gimana, Bu? Nabi Ismail disembelihhh?”
“Tidak sayangg, Allah Maha Baik, sehingga Allah tidak mungkin membiarkan hal itu benar-benar terjadi, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing tepat saat Nabi Ibrahim hendak menjalankan perintah tersebut,” jawab Anita
“Alhamdulillahhhhh…,” sahut Akram, “ihh, lagian kenapa sih harus perintah sembelih-sembelih begitu,” lanjutnya.
“Nah, menurut Akram sendiri mengapa Allah memberi perintah itu?” tanya Anita.
“Untuk melihat seberapa besar keimanan yang kita punya, Bu?”
“Betull sekalii,” jawab Anita, “Allah ingin melihat seberapa besar ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim kepada-Nya, karena terkadang hal yang paling sulit itu bukan kehilangan sesuatu, tetapi belajar mendahulukan perintah Allah di atas segalanya.”
Akram terdiam mendengarkan.
“Makanya dalam Hari Raya Iduladha yang sebenarnya ingin dilihat Allah bukan sekadar hewan yang disembelih, tetapi hati yang ikhlas menerima, berbagi, dan mendekatkan diri kepada Allah,” tutur Anita.
“Jadi… Akram juga harus ikhlas ya, Bu, kalau besok Jono disembelih?” tanya Akram lirih. Air matanya kembali jatuh dan jarinya mengusap-usap pelan tubuh kambing itu.
“Iyaa, Nak,” jawab Anita, “Jono sudah menjadi bagian dari ibadah kita kepada Allah. InsyaAllah, apa yang dilakukan dengan niat baik kelak akan menjadi kebaikan juga,” lanjutnya.
Angin laut malam kembali berembus pelan, membawa gema takbir yang masih bersahut-sahutan dari kejauhan. Akram terdiam, dadanya masih terasa berat merelakan kambing yang telah menjadi teman terbaiknya selama seminggu terakhir.
“Ibu paham pasti berat rasanya melepas Jono, tetapi Akram tidak sendiri kita lewati sama-sama ya, Nak,” ucap Anita.
Ia bergerak mendekat lalu memeluk tubuh kecil anaknya erat dan seketika itu juga, tangis yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah. Bahu Akram bergetar kecil, berusaha mengikhlaskan sesuatu yang sangat ia sayangi.
Anita hanya mengusap lembut punggung anaknya tanpa banyak kata, membiarkan kegelapan memeluk haru menyembuhkan perasaan luka dan kehilangan. Dan di bawah gema takbir malam itu, seorang anak akhirnya belajar bahwa tidak semua yang disayangi harus dimiliki selamanya.