Enter your keyword

post

Muharram: Jejak Sebatang Cahaya Muharram

Muharram: Jejak Sebatang Cahaya Muharram

Malam Tahun Baru Islam selalu menghadirkan suasana yang khas bagi masyarakat Indonesia. Di balik berbagai tradisi yang dilakukan untuk menyambutnya, terdapat sejarah panjang yang menjadi awal penetapan perhitungan tahun baru dalam Islam. Lantas, bagaimana kisahnya? Mari kita ulik bersama.

Sejak dahulu, manusia menggunakan kalender untuk menghitung waktu dan menandai peristiwa penting. Secara umum, terdapat tiga jenis sistem penanggalan yang digunakan di dunia, yaitu solar mengacu pada peredaran matahari (Masehi), lunar mengikuti siklus bulan (Hijriah), serta lunisolar menggabungkan keduanya (Lunar Tradisional). Perbedaan tersebut membuat satu tahun dalam kalender Hijriah terdiri dari ± 354 – 355 hari, ± 10 – 11 hari lebih pendek dibandingkan kalender Masehi, dan ± 11 – 19 hari lebih pendek atau panjang dari kalender Lunar Tradisional.

Dan, dari ketiga jenis tersebut, Kalender Hijriah akhirnya digunakan oleh umat Islam sebagai sistem penanggalan keagamaan karena satu peristiwa, yaitu hijrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah yang menjadi titik awal terbentuknya masyarakat Muslim, sampai pada masa pemerintahan Umar bin Khattab para sahabat sepakat menjadikan perjalanan tersebut sebagai awal perhitungan tahun baru Islam guna menciptakan sistem penanggalan yang seragam untuk mendukung administrasi pemerintahan.

Namun, mengapa Islam akhirnya menggunakan kalender Hijriah, bukan kalender Masehi atau lunisolar?

Jawabannya terletak pada dasar penentuan ibadah besar tahunan dalam Islam mengikuti siklus bulan, seperti Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan ibadah haji, yang jika menggunakan kedua kalender tersebut akan menyebabkan waktu pelaksanaan bergeser setiap tahunnya. Dalam kalender Hijriah, Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama, penanda dimulainya tahun baru Islam, sekaligus termasuk dalam empat bulan suci (Asyhurul Hurum) yang dimuliakan. Karena itu, bulan ini kerap dijadikan waktu untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, dan memperbanyak amalan kebaikan.

Begitu pun di Indonesia, kehadiran Muharram hingga kini masih disambut dengan berbagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Ada yang mengadakan pengajian, doa bersama, santunan, hingga pawai obor yang menjadi salah satu kebiasaan paling dikenal masyarakat.

Ketika malam 1 Muharram tiba, jalanan yang biasanya gelap perlahan berubah menjadi lautan cahaya. Aku hanya sebatang bambu dengan nyala api kecil di ujungnya. Meski sederhana, selama bertahun-tahun aku menjadi simbol penerang yang mengingatkan manusia untuk terus menebarkan kebaikan.

Dari tempatku berada, kulihat anak-anak berjalan dengan wajah penuh semangat, remaja yang bercengkerama, sampai orang tua yang mendampingi dari belakang. Semuanya keluar rumah untuk ikut serta memeriahkan kedatangan peristiwa ini, lintasan yang biasanya lengang penuh dengan suasana hangat dan kebersamaan.

Jika sendirian, redup rasanya, tetapi ketika menyala bersama, pekatnya malam memudar dan sinar menjangkau lebih banyak sudut. Begitu pula dengan kebaikan yang sering kali berawal dari tindakan sederhana, seperti Ibu yang membantu anaknya menjaga obor, kakak yang memastikan adiknya tetap disampingnya, dan warga yang saling mengingatkan untuk berhati-hati.

Semuanya tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kepedulian yang terus dijaga dan dibagikan dari satu orang ke orang lainnya. Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat, tetapi ketika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, akan dapat membawa manfaat yang jauh lebih besar. Layaknya nyalaku yang bermula dari satu percikan kecil, lalu berpindah dari satu obor ke obor lainnya.

Ketika pawai berakhir, satu per satu peserta kembali ke rumah, jalanan perlahan kembali seperti biasa. Namun ada yang tetap tinggal,  sebuah nilai yang tidak ikut padam dan terus hidup dalam bentuk kepedulian, kebersamaan, serta semangat untuk menebarkan kebaikan. Itulah nyala yang sesungguhnya bernama kepedulian.