Enter your keyword

post

Menyoroti Karhutla, Sekolah Alam Bekasi Turut Bersuara

Menyoroti Karhutla, Sekolah Alam Bekasi Turut Bersuara

Karhutla di Indonesia: Persoalan yang Terus Berulang

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah terjadi di Indonesia sejak puluhan tahun lalu, termasuk kebakaran besar yang tercatat sejak dekade 1960-an. Menurut Pantau Gambut, kebakaran di lahan gambut mulai banyak mendapat perhatian pada 1997, ketika pembukaan lahan melalui Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare di Kalimantan Tengah menjadi salah satu konteks penting dalam sejarah kebakaran gambut di Indonesia. Mengutip data BAPPENAS–Asian Development Bank (ADB) tahun 1999, Pantau Gambut menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut pada 1997–1998 diperkirakan mencapai 2,1 juta hektare, dengan wilayah terdampak meliputi Sumatra, Kalimantan, dan Papua.


Sejak saat itu, kebakaran di lahan gambut terus berulang dengan skala yang berbeda-beda, sebelum kembali terjadi dalam skala besar pada 2015. Dalam artikel yang sama, Pantau Gambut mencatat bahwa kebakaran pada tahun tersebut menghanguskan sekitar 194.787,88 hektare lahan gambut. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa karhutla bukanlah persoalan yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir, melainkan tantangan lingkungan yang telah berlangsung selama beberapa dekade dan terus membutuhkan perhatian.

Pada 2026 ini, kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem yang terbakar, tetapi juga dapat mempengaruhi kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta keberlangsungan habitat berbagai satwa. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat menyebar ke wilayah lain dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara kerusakan lingkungan membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Situasi ini mengingatkan kita bahwa karhutla bukan sekadar persoalan api yang membakar vegetasi, melainkan persoalan lingkungan yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia dan keseimbangan ekosistem. Hingga bulan Oktober ini kebakaran masih terjadi di sejumlah titik di Indonesia.



Sekolah Alam Bekasi Turut Menyuarakan Solidaritas

Di tengah persoalan karhutla yang kembali terjadi, Sekolah Alam Bekasi (SAsi) turut mengambil bagian dalam menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan melalui aksi solidaritas cegah karhutla yang dilaksanakan pada Jumat, 16 Oktober 2026 yang diikuti oleh seluruh civitas SAsi . Kegiatan ini merupakan seruan yang dilakukan oleh Jaringan Sekolah Alam sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelestarian alam dan kehidupan yang terdampak, sekaligus menunjukkan bahwa persoalan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia merupakan hal yang patut mendapat perhatian bersama.

Melalui orasi, pembacaan puisi, dan doa, civitas sekolah menyampaikan pesan untuk menghentikan kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Setiap rangkaian kegiatan menjadi ruang untuk menyuarakan kepedulian terhadap alam sekaligus mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi urusan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, sebab dampaknya dapat menjangkau kehidupan yang lebih luas dan mempengaruhi keberlangsungan ekosistem yang saling terhubung.

Keterlibatan seluruh civitas dalam aksi ini menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk keterlibatan, termasuk dengan menyuarakan persoalan yang membutuhkan perhatian lebih luas. Melalui aksi solidaritas tersebut, sekolah turut mengambil bagian dalam menyampaikan pesan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu terus diingat dan diperjuangkan melalui berbagai tindakan sesuai dengan peran masing-masing.

Menjaga Alam, Bagian dari Tanggung Jawab Pendidikan

Bagi kami, alam bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan belajar, melainkan juga bagian penting dari kehidupan yang perlu dijaga keberlangsungannya. Kedekatan dengan alam dalam proses pendidikan mengingatkan bahwa belajar tentang lingkungan tidak cukup berhenti pada pemahaman mengenai pentingnya menjaga bumi, tetapi juga perlu disertai kesadaran untuk mengambil sikap ketika lingkungan menghadapi ancaman, termasuk ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Aksi solidaritas pada 16 Oktober 2026 lalu menjadi salah satu bentuk keterlibatan kami dalam menyikapi persoalan tersebut, sekaligus ruang untuk menunjukkan bahwa nilai kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.Melalui aksi ini, Sekolah Alam Bekasi menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan dalam merespons persoalan di lingkungan sekitar. Pengetahuan dan nilai yang dipelajari menjadi bekal untuk memahami berbagai tantangan kehidupan, menumbuhkan kepedulian, serta mendorong setiap individu mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan alam.

Aksi solidaritas mungkin menjadi satu bagian kecil dari upaya menjaga alam di tengah persoalan karhutla yang begitu luas, tetapi kepedulian yang mendasarinya perlu terus hidup setelah kegiatan berakhir. Ketika alam menjadi ruang kelas, menjaganya merupakan bagian dari tanggung jawab pendidikan yang tidak hanya hadir dalam pembelajaran, tetapi juga tercermin melalui sikap dan tindakan sehari-hari, sebab keberlangsungan alam hari ini turut menentukan ruang hidup yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.