Enter your keyword

post

Merdeka dalam Keluarga: Hadirnya Peran Ayah

Merdeka dalam Keluarga: Hadirnya Peran Ayah

Setiap bulan Agustus, kita kembali berbicara mengenai kemerdekaan. Tentang keberanian, kebebasan, dan kesempatan untuk menentukan arah sendiri. Namun, mungkin ada bentuk kemerdekaan lain yang tidak selalu dibicarakan, yaitu merdeka dari anggapan bahwa pengasuhan anak adalah pekerjaan ibu.

Di banyak keluarga, peran ibu masih begitu dekat dengan berbagai urusan anak. Ibu yang lebih sering mengetahui jadwal sekolah, menyiapkan kebutuhan, mendampingi kegiatan, hingga menjadi tempat pertama ketika anak membutuhkan sesuatu. Sementara itu, ayah kerap ditempatkan pada peran yang berbeda, bekerja, mencari nafkah, atau sekadar hadir ketika ada waktu luang.

Padahal, menjadi orang tua bukanlah peran yang memiliki pembagian tugas berdasarkan jenis kelamin. Pengasuhan adalah perjalanan bersama untuk dijalani. Ayah pun membutuhkan ruang untuk hadir, mencoba, belajar, bahkan merasakan secara langsung pengalaman yang selama ini dijalani anak.

Di sinilah sebuah kegiatan sederhana di lingkungan Sekolah Alam Bekasi menjadi menarik untuk dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.

Ketika Ayah Menjadi Peserta

Dalam salah satu rangkaian kegiatan sekolah, para ayah dari jenjang TK, SD 1, dan SM 1 mendapatkan kesempatan untuk menginap dan mengikuti pengalaman terlebih dahulu sebelum anak-anak mereka melakukannya.


Biasanya, orang tua berada di posisi yang mengantar anak menuju sebuah pengalaman. Kali ini berbeda, ayah menjadi pihak yang berangkat lebih dulu. Mereka tidur di tempat yang bukan rumah, mengikuti rangkaian aktivitas, beradaptasi dengan situasi baru, bekerja sama dengan orang lain, dan merasakan langsung berbagai hal yang nantinya juga akan dihadapi oleh anak-anak mereka.

Sekilas, kegiatan ini mungkin terlihat seperti aktivitas menginap biasa. Namun, jika dilihat lebih jauh, ada sesuatu yang sedang dibangun, yaitu kesempatan bagi ayah untuk mengenal pengalaman anak melalui pengalaman mereka sendiri.

Pengasuhan Bukan “Pekerjaan Ibu” yang Dibantu Ayah

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan seringkali masih dibingkai dengan istilah “membantu ibu”. Kalimat seperti “Ayah bantu jagain anak” terdengar sederhana, tetapi tanpa disadari menyimpan asumsi bahwa tanggung jawab utama memang berada di tangan ibu. Padahal, ayah tidak sedang membantu ketika mengasuh anak. Ayah sedang menjalankan perannya sebagai orang tua.

Begitu pula ketika ayah mengetahui kegiatan sekolah anak, mendampingi proses belajarnya, menyiapkan kebutuhan, menemani perjalanan, atau sekadar memahami apa yang sedang anak hadapi. Semua itu bukan wilayah eksklusif ibu. Kehadiran ayah dalam pengasuhan juga bukan berarti mengambil alih peran ibu. Justru sebaliknya, keterlibatan tersebut membuka kesempatan bagi ayah dan ibu untuk berbagi peran dengan lebih setara.

Ketika pengasuhan tidak lagi dibatasi oleh stereotip, keluarga memiliki lebih banyak ruang untuk menentukan pembagian peran berdasarkan kebutuhan, kondisi, dan kesepakatan bersama. Inilah salah satu bentuk kemerdekaan dalam keluarga. Merdeka dari anggapan bahwa seorang ibu harus selalu menjadi pihak yang paling tahu tentang anak, merdeka dari anggapan bahwa ayah cukup hadir ketika ada waktu, dan merdeka dari pembagian peran yang hanya karena “memang dari dulu begitu”.

Ayah Juga Perlu Ruang untuk Belajar Menjadi Orang Tua

Keterampilan mengasuh tidak otomatis hadir hanya karena seseorang menjadi ayah atau ibu, tetapi perlu dibentuk melalui pengalaman. Melalui interaksi sehari-hari, percakapan, serta proses mencoba dan memahami. Hal itu, memberi ruang kepada ayah untuk terlibat secara langsung dalam pengalaman anak menjadi penting.

Kegiatan menginap sebelum anak bukan hanya tentang mempersiapkan ayah secara teknis. Namun, ada kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang anak. Apa yang terasa mudah bagi orang dewasa mungkin terasa menantang bagi anak. Apa yang dianggap sederhana oleh orang tua bisa menjadi pengalaman baru yang besar bagi mereka. Dengan mengalami lebih dulu, ayah memiliki kesempatan untuk memahami hal-hal tersebut tanpa harus selalu menunggu anak menjelaskannya.

Pada akhirnya, keterlibatan bukan hanya membuat ayah lebih dekat dengan aktivitas anak, tetapi juga dapat membantu membangun hubungan yang lebih dekat antara ayah dan anak.

Ketika Orang Tua Juga Belajar

Selama ini, sekolah sering dipandang sebagai tempat anak belajar. Anak datang ke sekolah untuk belajar tentang berbagai hal, bertemu teman, mencoba pengalaman baru, menyelesaikan tantangan, dan menemukan kemampuan dirinya. Namun, proses pendidikan sebenarnya tidak berhenti pada anak. Orang tua pun terus belajar.

Belajar memahami anak yang sedang tumbuh, belajar memberikan kepercayaan, belajar kapan harus membantu dan kapan perlu memberi ruang, juga belajar menerima bahwa setiap anak memiliki ritme dan cara yang berbeda.

Maka dari itu, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah bukan hanya pelengkap, melainkan menjadi bagian dari proses membangun hubungan antara rumah dan sekolah.

Ketika ayah dari TK A, SD 1, hingga SM 1 ikut mengalami kegiatan sebelum anak-anak mereka, sekolah tidak hanya sedang mempersiapkan orang tua. Sekolah sedang menciptakan ruang perjumpaan baru antara ayah, anak, dan proses pendidikan yang mereka jalani bersama. Ada pengalaman yang bisa dibicarakan setelahnya, tantangan yang bisa dipahami bersama, dan percakapan baru yang sebelumnya belum pernah terjadi.

Merdeka untuk Hadir

Kemerdekaan seringkali dipahami sebagai kemampuan untuk bebas menentukan pilihan. Dalam keluarga, kebebasan itu bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana dengan memberikan kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk hadir sesuai perannya tanpa dibatasi stereotip.

Ayah boleh terlibat dalam pengasuhan tanpa dianggap sedang “membantu”.

Ibu boleh berbagi tanggung jawab tanpa merasa harus mengerjakan semuanya sendiri.

Anak pun mendapatkan ruang untuk tumbuh dengan melihat bahwa hubungan dalam keluarga dibangun melalui kerja sama, bukan pembagian peran yang kaku.

Pada dasarnya, anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika mereka melihat ayah dan ibu sama-sama hadir, sama-sama belajar, dan sama-sama mengambil bagian dalam perjalanan mereka, anak sedang melihat contoh nyata tentang bagaimana sebuah keluarga bekerja bersama. Melalui hal itu, makna kemerdekaan menjadi lebih dekat.

Bukan hanya tentang bebas dari sesuatu, tetapi juga memiliki ruang untuk mengambil peran, menentukan cara hadir, dan bertumbuh bersama. Merdeka juga berarti membebaskan keluarga dari batas-batas peran yang selama ini dianggap seharusnya.