THE JOURNEY TO SELF DISCOVERY

THE JOURNEY TO SELF DISCOVERY  (Catatan Perjalanan Ekspedisi Religi dan Live In Social Jogyakarya-Magetan 01 Maret-08 Maret 2018)

“Perjalanan selalu meninggalkan cerita, makna dan sesuatu yang menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya.”

Setiap perjalanan adalah jejak ilmu yang perlu kita eja maknanya, dan ini catatan perjalanan kami di Jogyakarta hingga Magetan, semoga bermanfaat:

JOGYAKARTA 01-03 maret 2018*
Daerah Istimewa Jogyakarta (DIY) yang terkenal dengan Malioboro dan Candi Borobudur sebagai ikonnya, ternyata juga menyimpan sisi keistimewaan dalam keagamaannya (religious).

JOGOKARIYAN, Masjid sederhana yang dibangun pada tahun 1996 terkenal ke penjuru dunia sebab kemakmurannya. Ribuan makanan disediakan bagi jamaah setiap minggunya, ketika masjid lain berusaha mengumpulkan infak jamaah, Jogokariyan berusaha segera membelanjakan infak jamaah dan mengenolkan saldonya. Disinilah, kemakmuran umat islam itu tergambar.

PPTQ SAHABATQU. Lantunan ayat-ayat Allah terdengar ramai disini. Sahabat shalih dan shalihah yang memiliki semangat untuk menjadi hafidz dan hafidzah seperti kita semakin mengukuhkan tekad kita untuk terus menghafal meskipun tidak hafal-hafal.

Dalam halaqah-halaqah disana kami pun kembali mengenal islam (Magrifatul Islam) dan mencatat 5 bentuk kebersamaan bersama Al Quran:
1. Membacanya
2. Mentadaburinya (memahaminya)
3. Mengamalkannya
4. Menghafalnya
5.Mendakwahkannya (menyebar luaskan)

dan sebaik-baik santri/siswa adalah yang:
1. senantiasa Husnudzon (berprasangka baik) pada Allah dan manusia.
2. senantiasa berkata yang terbaik (ahsan)
3. Berakhlak baik (akhlakul karimah)

Teringatlah kami pada pesan sang Nabi:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Quran” (HR. Bukhari)

“Sebaik-baik islam kalian adalah yang paling baik akhlaqnya jika menuntut ilmu.” (Hadits riwayat Ahmad)

MAGETAN 03-08 Maret 2018
Perjalanan kami berlanjut ke Jawa Timur, tepatnya ke Dukuh Nongkodandang, Desa Sidomukti, Plaosan, Kabupaten Magetan. Tetibanya disana, kami disambut kabut lembut khas daerah di kaki gunung Lawu. Pagi tiba kami eksplorasi sawah nan terlihat asri, dilengkapi cerita masa kecil pak Hendrik yang menyenangkan. Disinilah kami temui, adalah Alam teman belajar kita yang tak pernah ingkar dengan FirmanNya.

LIVE-IN SOCIAL. Tidak ada kemacetan kendaraan, tidak ada klakson yang bersahutan di waktu pagi. Suara gesekan sandal ke penjuru masjid menjadi pertanda kegiatan di pagi hari. Setelahnya, kami ikuti kegiatan masyarakat Sidomukti dengan ragamnya.

Kami ikuti aktivitas mereka yang berdagang, beternak, bertani, membuat tempe dan lainnya selama dua hari. Terasa benar payahnya berdagang di pasar, bertani di sawah dan beternak di kandang sapi. Kita hanya coba sehari dua hari, mereka telah melakukannya puluhan tahun, disinilah kami dapati sisi lain kehidupan yang penuh perjuangan, usaha, pengorbanan dan kesabaran.

Pun kami ikuti aktivitas masyarakat yang memulainya dengan ibadah khusyuk sebelum fajar, memasak, bebersih, bekerja lalu menutup hari dengan perbincangan bersama saudara dan bersama Sang Rabbi lewat ibadah malam. Aktivitas masyarakat yang sederhana namun penuh arti bagi kami yang tinggal di kota.

Dan setelahnya, kami menyusuri Magetan dari Telaga Sarangan hingga Geni Langit. Terkagumlah kami pada apa-apa yang Allah ciptakan itu penuh keseimbangan.

Pun, pada penciptaan kami yang memiliki sisi berbeda. Perjalanan menunjukan siapa diri kita dan bagaimana teman kita.

Maka, tiadalah nasihat perjalanan selain penerimaan, pemahaman dan pengingat. Kita berbeda tapi tujuan kita sama.

So, The goal of journey is discover our selves.

Tujuan perjalanan adalah untuk menemukan diri kita sendiri. Adakah kita seorang Driver (pengambil keputusan) atau seorang Passanger (pengikut semata).

Sudahkan setia perjalanan menjawab tentang siapa dirimu?

The Journey to self Discovery
by Abie Aisyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *