Surau Merantau (Sajian model Pendidikan Alternatif untuk Mematangkan Anak)

“We can only grow, if we are willing to feel awkward and comfortable, when we try something NEW” (Brian Tracey)

Let`s Move out of our comfort zone

Pernahkan kita melihat orang dengan usia 30`an, bersikap seperti anak belasan? atau seorang siswa SMA yang bertingkah seperti anak-anak tingkat SD? atau bahkan seorang yang menduduki sebuah peran tapi tak dapat menjalankan perannya?.

Kita temukan adanya ketimpangan antara usia (secara fisik) dengan sikap (secara psikis). Ada yang tidak seirama antara perkembangan Aqil dan Baliqnya. Lalu, Apa pasal?

Zona aman yang nyaman, tenang, mudah dengan sedikit tantangan dapat menjadi salah satu sebab adanya generasi2 yang demikian. Zona nyaman menjadi penjara untuk perkembangan kematangan anak, menjadikan anak mudah menyerah atau bahkan tidak dapat menyadari dan menjalankan perannya.

Konsep Pendidikan Surau Merantau ditawarkan menjadi alternatif pendidikan untuk menjawab keresahan tersebut.

Surau Merantau yang menjadi bagian kearifan lokal (Local Genius) masyarakat Bukit Tinggi Sumatra barat yang telah melahirkan tokoh-tokoh ternama yang berpengaruh seperti Buya Hamka, Bung Hatta, Muhammad Yasir Al-Fadani dan Ahmad Khatb Al-Minangkabawi.

Dimana pada masanya masyarakat minang menjadikan Surau (Masjid) sebagai tempat untuk mendidik anak-anak tentang Tauhid, Tajwid, Sastra, diplomasi dan Silek (Silat). Dalam Surau pula lintas generasi dapat bersosialisasi untuk bertransfer ilmu dan bermusyawarah.

Kemudian Merantau menjadi kebiasaan (adat) bagi laki-laki Minang yang bukan saja dilakukan untuk tujuan ekonomi, namun tujuan utama pada masanya adalah menebar dakwah islam di Nusantara dan membanguan Surau ditempat lain.

Surau Merantau di Minang yang diyakini dapat mengarahkan anak untuk menjadi seorang pembelajar dalam perjalanan dengan mengoptimalkan tiga maestro alami yaitu (maestro Ilmu, Kehidupan dan Alam), yang kemudian menjadikan anak2 dapat tumbuh percaya diri, rendah hati, jago berdiplomasi dan tegas dalam mengambil sikap dan mengambil keputusan.

Hari ini Surau Merantau berusaha untuk dikembangkan dan coba diterapkan di Sekolah Alam Tangerang (SAT) bagi anak-anak tingkat SM (Sekolah menengah), dimana Anak-anak dididik melalui sekolah yang berpindah (Moving School). Anak2 akan dikayakan dengan pengalaman berguru dengan para maestro di bidang yang mereka minati, mereka ditempa dalam perjalanan yang penuh tantangan dan menjadikan alam sebagai sahabat dan guru belajar. Hingga yang mereka dapat bukan saja kecakapan tapi juga pemaknaan (nilai-nilai) dari perjalanan pembelajar.

Maka, konsep Surau Merantau ditawarkan menjadi sajian pilihan alternatif pendidikan untuk masa depan yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan anak, agar menjadi pembelajar yang siap menghadapi tantangan. Tangguh dalam menjawab persoalan di masa mendatang dan tentunya untuk menselaraskan perkembangan Aqil dan Baliq anak.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 155)

Inspired by: Andriano Rusfi, Arief Malinmudo, Bharata

Abie Aisyah,Sekolah Alam Tangerang, 05 Februari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *