Mengapa Aku Harus di Sekolah Alam?

 

Saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saya ketika mulai terjun ke dunia pendidikan, tepatnya ketika saya berada di SAsi (Sekolah Alam Bekasi). Ini adalah pengalaman pertama saya mendidik anak-anak dalam suatu institusi pendidikan. Singkat cerita, pertama kali mengajar saya di tempatkan menjadi guru bidang ICT (Information, Communication and Technology), ilmu yang mempelajari tentang komputer, sesuai dengan jurusan saya yang saat itu masih kuliah dan mengambil jurusan Teknik Informatika. Namun saya sedikit bingung karena ternyata pelajarannya tidak sesuai dengan yang pernah saya dapatkan saat kuliah. J

Pengalaman yang tak terlupakan saat mengajar ICT adalah dipanggil “om” oleh anak-anak. Walaupun saat itu oleh guru kelasnya sudah diingatkan, tapi anak-anak tersebut masih sering lupa dan saya hanya tersenyum. Bagi saya tidak masalah mau dipanggil om, mas, atau kakak selagi masih dalam etika kesopanan, yang penting anak-anak merasa nyaman dengan kita. Kalau anak sudah senang dan nyaman dengan kita selaku guru atau fasilitator maka ilmu yang kita berikan akan mudah diserap dan diikuti oleh anak-anak. Bagaimanapun, guru adalah teladan untuk muridnya setelah kedua orang tuanya.

Setelah satu tahun saya mengajar ICT saya mendapat tawaran dari pihak manageman SAsi untuk mengajar di kelas. Dengan mengucap bismillah amanah ini saya terima dengan syarat partner saya adalah guru yang sudah berpengalaman mengajar di kelas karena saya butuh orang yang mengingatkan atau membimbing saya ketika ada kesalahan atau kekeliruan pada diri saya saat mengajar. Akhirnya saya dipertemukan dengan bu Dessy Ariani sebagai partner saya di SD 4 Dalimo dilanjutkan dengan bu Afdina Hespita Putri di SD 4 Palopo. Mereka adalah partner sekaligus fasilitator SAsi yang luar biasa sekali ilmunya. Sedangkan saat ini saya diamanahi menjadi fasilitator SD 5 Banjarmasin bersama partner kelas yang alami sekali sesuai dengan namanya yaitu Ibu Anisse Alami. J

Bagi saya menjadi seorang guru bukan hal yang mudah. Ini adalah amanah besar yang tidak boleh kita anggap remeh, jadi harus benar-benar banyak belajar dan selalu introspeksi diri. Mengapa saya katakan demikian? Karena mendidik dan mengajar ini yang menentukan masa depan anak-anak, agama, bangsa dan negara agar menjadi rahmatan lil’alamiin. Kegagalan guru dalam mendidik bisa berakibat runtuhnya moralitas generasi bangsa. Saya sepakat dengan yang disampaikan bapak presiden pertama kita, Bapak Soekarno, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan seluruh dunia. Tapi untuk saat ini mungkin yang kita butuhkan tidak hanya 10 pemuda, bisa jadi 100 atau 1000 pemuda untuk mengguncangkan dan menggemparkan dunia.

Semoga saja kelak sekolah kami, Sekolah Alam Bekasi bisa melahirkan generasi anak-anak yang berkarakter (jujur, berani karena benar atau senang pada kebenaran, adil, disiplin, kerja keras, berkasih sayang, cinta damai, belas kasihan, bermanfaat untuk orang lain dan alam sekitar) serta cinta tanah air, bangsa dan negara.

Kita kembali lagi ke sekolah alam. Ada suatu hal yang menarik dari sekian banyak cerita dan pengalaman saya di SAsi adalah tentang pendidikan karakter. Mengapa saya katakan demikian? Karena bagi saya pendidikan karakter ini tidak hanya untuk anak-anak didik kita tapi melibatkan kita semua, orang tua, guru dan lembaga pendidikan yang mungkin tidak didapatkan di sekolah-sekolah pada umumnya. Kalau ingin melahirkan anak-anak yang berkarakter, mulailah dari diri kita terlebih dahulu, karena kita semua, baik guru maupun orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya. Dan sebaik-baik teladan bagi kita adalah baginda Rasulullah SAW, dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah (Muhammad) itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab 33 : 21)

Pada dasarnya kita semua adalah guru. Kalau kata orang tua saya dulu guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Digugu artinya diindahkan atau dipercayai, sedangkan ditiru artinya dicontoh atau diikuti. Guru yang berkarakter akan melahirkan murid yang berkarakter juga. Dari sanalah kita dapat memahami bahwa karakter itu adalah fitrah yang Allah anugerahkan kepada manusia. Pendidikan pada esensinya adalah untuk mengenalkan anak didik kita kepada Tuhan-nya (Allah SWT) serta menciptakan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (change behavior), bukan sekedar pola pikir. Oleh karena itu lembaga pendidikan mendapat amanat paling berat, tidak hanya dijadikan bisnis semata tapi memiliki nilai-nilai moral yang baik untuk merumuskan dan kemudian mengaplikasikan rumusan pendidikan karakter itu di lembaga pendidikan. Goal yang diharapkan adalah lembaga pendidikan tidak hanya menjadi pencetak orang pintar saja tapi juga orang baik hati, jujur, adil, pemberani dan bertanggung jawab.

Itu sebabnya pendidikan karakter penting untuk menjawab tantangan di era globalisasi seperti sekarang ini. Untuk mewujudkan itu semua, kita semua butuh kerjasama antara orang tua, guru dan lembaga pendidikan untuk kebaikan anak-anak kita kedepanya. Semoga kelak anak-anak kita semua bisa menjadi khalifah fil’ard yang rahmatan lilla’lamiin. Aamiin.

Di Sekolah Alam Bekasi ini banyak ilmu yang saya dapatkan terkait dengan pendidikan karakter melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran bersama anak, yang sangat berbeda sekali ketika saya kecil dulu. Dulu guru itu seperti sosok yang menakutkan tapi di Sekolah Alam Bekasi guru atau fasilitator dijadikan seperti sahabat, motivator bahkan tempat curhat bagi anak-anak. Itulah salah satu pendidikan karakter yang kita tanamkan pada diri anak-anak. Masih banyak lagi selain itu, diantara membiasakan anak untuk selalu shalat tepat waktu dan membiasakan shalat dhuha, dzikir, membaca asmaul husna, muroja’ah hafalan surat-surat pendek sebelum melakukan aktivitas pembelajaran. Ada juga BBA (Belajar Bersama Alam) tepatnya seperti tafakur alam, merenungkan ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini dan dikaitkan dengan KBM, life skill, outbound, mentoring, scouting, camping ke gunung, outing, home visit, cooking class, ekspedisi ujung kulon, backpacker-an serta kegiatan penunjang seperti ekstrakulikuler memanah, futsal, kerajinan tangan, bela diri praktis.

My school, my oasis. Kita seperti keluarga, saling mengingatkan satu sama lain dan menasehati dalam kebaikan. Kita memiliki visi dan misi yang sama yaitu menjadi oasis untuk belajar, tumbuh, dan hidup harmoni serta menyiapkan generasi pemimpin yang bertaqwa, berilmu, dan arif sehingga menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sekian kisah cerita dari saya, semoga ada manfaatnya dan mohon maaf jika ada kalimat yang kurang berkenan bagi pembaca. Saya akhiri dengan ungkapan bijak undzur maa qaala wa laa tandzur manqaala.

Oleh Mulyo Ogiyanto

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *