Menelisik Makna : Belajar Menanam

“Oke teman-teman sebelum ngaji, boleh nyiram tanaman dulu ya” Ujar bu Lona mengarahkan teman-teman SM 1 Samarinda.

“Ayo teman-teman, kita siram dulu tanamannya, biar bisa panen” lanjut ajakanku kepada anak-anak.

Sengaja saya ucapkan kata “Ayo teman-teman”, saya tau mereka adalah anak-anak yang akan beranjak dewasa yang lebih suka diajak bersama-sama, tidak diperintah. Layaknya tanaman kini mereka mulai tumbuh, berbunga dan siap berbuah,

“Bu Abida tanamanku daunnya tambah banyak, libur satu minggu ini udah tinggi banget ya..” Said begitu antusias menyampaikan perkembangan tanaman cabai yang Ia tanam di bedengan.

“Waaah, Alhamdulillah bentar lagi sudah mau berbunga itu id… disiram terus ya, dikasih pupuk lebih baik..” balasku

Tanam menanam adalah salah satu kegiatan khas yang dilakukan di Sekolah Alam, tida terkecuali untuk kami di Sekolah Alam Bekasi. Setiap kelas memiliki projek menanam tanaman di Bedeng yang telah disediakan sekolah. Bahkan setiap anak diberikan kesempatan untuk merawat tanaman yang Ia tanam. Pun demikian dengan teman-teman SM 1 Samarinda yang diberikan jatah bedeng lebih banyak dari adik-adik TK dan SD, jadilah kita menanam berbagai jenis tanaman sayuran dan tanaman bumbu, seperti kangkung, bayam, tomat, cabai, lengkuas, jahe, kunyit dan timun. Mereka diberikan kesempatan untuk mengolah tanah yang akan digunakan sebagai media tanam, kemudian mereka medilakukan pembibitan, perawatan dan pemeliharaan tanaman. Ketika tumbuh mereka dapat menanen dan mengolah hasil tanaman yang mereka tanam tersebut. Seru kan?.

Kegiatan tenam-menanam yang di dilakukan di Sekolah Alam Bekasi mungkin dipandang sebagai kegiatan yang biasa sekali. Banyak orang bisa, petani apalagi, ah mungkin semua orang bisa lah menanam sayur. Lalu, apa yang berbeda? Kenapa di Sekolah Alam ada tanam menanam? Di Sekolah lain mungkin jarang dilakukan kegiatan semacam ini, eh di Sekolah Alam, dari TK sampai SM nanam semua malah. Ada apa dengan dunia tanam menanam?. Rentetan pertanyaan itu mungkin yang banyak terbersit dibenak orang-orang disana. Baiklah mari kita amati lebih dalam.

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar: 21)

“bu..bu..bu Abida punysaya masak daunnya malah pada rontok bu, ni..ni.. bu, tingginya juga lama bu, ga kayak yang lain..” Ibra menunjukan tanamannya.

“iya ya bra, tumbuhnya beda-beda ya walaupun nanamnya sama, ga papa ra disiram aja yang rajin, sama digemburin lagi tanahnya biar lebih subur..” masukanku untuk ibra

“ mungkin karena ga saya siram kemarin-kemarin kali ya bu…ah, sayang ni” sesalnya

“Udah gapapa, dirawat aja terus ya, kalau kita putus asa trus ga disiram ntar malah mati taamannya” Ujarku menyemangatinya.

Cerita-cerita yang disampaikan Said dan Ibra adalah sebagian kecil dari cerita teman-teman lainnya tentang proses tanam menanam yang mereka dilakukan. Sebagai fasilitator saya sering tersenyum-senyum mengamati proses mereka dalam hal ini. Saya melihat warna dari setiap mereka berbeda. Ada dari mereka yang begitu sumringah menceritakan pertumbuhan tanamanan yang mereka tanam, tak jarang ada yang ikut layu ketika melihat tanaman mereka lagu karena panas atau merunduk terkena terpaan hujan deras. Nampak jelas mereka mulai hanyut dalam dinamika pertumbuhan tanaman yang mereka taman itu. Itu hal yang wajar. Disinilah proses mereka dilakukan. Diproses inilah makna  kehidupan (value of Life ) itu dapat disampaikan. Lewat hal sederhana inilah, proses pembentukan karakter itu dilakukan. Iya, lewat proses tanam menanam yang mereka lakoni.

Kita tahu benar, setiap tanaman yang tumbu pasti berproses, dari bibit, yang kemudian ditaman di tanah sebagai media taman, membutuhkan air, matahari dan unsur zat lainnya hingga akhirnya tumbuh dan berkembang.  pada kehidupan yang lebih luas, setiap hal butuh proses. Disinilah letak kenikmatan taman menamam itu, tanaman yang tumbuh adalah analogi dari proses kehidupan yang manusia jalani. Proses yang tidak ujug-ujug, hari ini ditanam eh besok bisa panen, tidak. Para petani padi, petani sayur, dan petani lainnya memperoleh padi yang baik dari proses panjang,hingga kita bisa menikmati nasi yang enak. Ah, itu hanya sebagian kecil saja. Mari kita cermati proses tenanam itu secara lebih dalam dengan menelisik makna belajar menanam.

Proses Pembibitan : Perlu bibit dan tanah yang cocok

“Pak Hendrik, kenapa tanahnya harus dicampur pupuk? Tanya Risky dengan serius

“Oke, pupuk seperti ini perlu dipakai teman-teman, karena pupuk organic ini akan menyuburkan tanah, jadi tanahnya cocok deh untuk ditanamin sayuran.” Jawab lugas pak Hendrik

“Trus biji Cabainya kenapa harus direndam dulu pak?” sambung Tanya dari Bilqis

“Kalau kita rendam bijinya yang terapung itu tandanya bijinya kurang cocok untuk ditanam, kalau yang tenggelam itu berkemungkinan lebih besar untuk tumbuh, gitu qis” Jawabnya lagi.

            The Seen matters when the soil is right. – Rene Soehandono-

             Bibit yang baik hanya akan tumbuh pada tanah yang cocok. Kurang lebih kalimat itu yang bisa kita ambil sebagai inti dari proses pembibitan. Jika diumpamakan bibit adalah anak-anak kita maka tanah adalah lingkungan dimana dia tumbuh dan berkembang. Sudahkah lingkungan sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan pertemanannya cocok dengan karakter anak-anak kita?. Nyatanya, tidak sedikit dari kita yang belum tahu benar, dimana tempat yang cocok agar seorang anak bisa tumbuh dengan baik. Ini sebab kita tidak mengenal sepenuhnya karakter dan tujuan anak-anak. Maka, sebagaimana bibit, masing-masing jenis memiliki pilihan tanah yang cocok untuk bertumbuh. Setiap anak pun membutuhkan lingkungan yang cocok untuk tumbuh dan berkembang.

Menunggu untuk tumbuh

“Bu Abida bibitnya akan mati selamanya atau nanti tumbuh?” Gaya khas Ahmed saat bertanya

“InsyaAllah hiduplah, tapi butuh waktu kita tunggu sama-sama ya” jawabku singkat

Pasca pemilihan bibit dan penanaman bibit di tanah, maka proses selanjutnya adalah menunggu pertumbuhan dari bibit. Iya, ada masa waktu untuk tumbuh, maka tugas pertama adalah menunggu dengan sabar. Bisa jadi dua minggu atau tiga, empat minggu bibit cabai itu akan tumbuh.

Menunggu tumbuh adalah bagian dari proses menanam. Sebab apa yang kita tanam tidak akan serta merta akan tumbuh esok hari atau lusa. Bisa jadi butuh waktu yang lebih lama dari itu. Maka, hal pertama dari proses menunggu adalah sabar. Menanam bibit dan menunggunya tumbuh layaknya sebuah doa, yang tidak serta merta akan terkabul dengan mudah dan cepat. Butuh waktu, butuh proses dan butuh kesabaran. Hal yang wajib kita usahakan adalah mengupayakan agar bibit itu tumbuh yaitu dengan menyiramnya dan memastikan pencahayaannya. Pun doa dan usaha dalam mendidik anak-anak kita. Hal yang wajib kita dilakukan adalah mengusahkan anak-anak kita untuk terus tumbuh dengan baik dan berbudi pekerti baik. Proses itu pun seringkali tidak bisa terlihat cepat. Butuh waktu dan proses. Hakikat hati manusia mengingkan segala sesuatunya itu terburu, tapi keniscayaan semesta bahwa segala sesuatunya membutuhkan waktu  maka sabar adalah kunci dalam ruang tunggu.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 2-3)

 

Penyemaian usai, tunas butuh ruang tumbuh

Setelah proses penyemaian bibit yang berminggu-minggu, mulai nampaklah tunas-tunas cabai itu dan siap untuk dipindahkan ke bedengan.

“Kenapa harus dipindah ke bedengan pak Hendrik? Gimana kalau dibiarkan tumbuh disitu saja” rasa ingin tahu zaidah nampak tegas.

“wah, kalau tetap disitu nanti bibitnya ga cepet besar dong kak. Kalau dipindah ke bedengan tunasnya bisa cepat besar, karena lebih luas, makanannya lebih banyak..” terang pak Hendrik menjawab pertanyaan Zaida.

Tunas butuh ruang lebih luas untuk tumbuh, agar asupan nutrisinya cukup untuk terus tumbuh. Tunas-tunas yang mulai nampak itu layaknya anak-anak kita yang mulai tumbuh remaja yang akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Namun syarat tumbuh itu adalah ruang tumbuh. Lalu sudahkan kita memberikan ruang tumbuh untuk mereka?

Anak-anak yang akan beranjak dewasa (remaja) adalah anak-anak yang mulai senang dengan berbagai hal baru, keingintahuan mereka besar, keinginan dan ego mereka menguat, mereka telah siap tumbuh.Untuk itu, mereka butuh ruang untuk berkreasi, melebarkan langkah ke penjuru tempat, butuh ruang untuk mencoba hal-hal baru, butuh banyak informasi untuk menjawab keingintahuan mereka yang melonjak dan mereka butuh ruang percaya. Lantas, sudahkan kita memberikan ruang percaya bagi mereka untuk memilih jalan tumbuhnya?. Beri mereka kepercayaan untuk memilih, biarkan mereka mengeja apa arti dari pilihan dan pertanggungjawabannya. Itulah ruang untuk mereka tumbuh.

“Hanya rajawali yang berani terbang tinggi walaupun sendiri” –Fuad Hasan-

Kini tunas telah tumbuh besar, pupuklah agar berbuah

Nah teman-teman setelah kita melakukan pembibitan sampai kita merawatnya setiap hari, sekarang tanaman cabainya mulai semakin tinggi dan siap berbuah. Yeay…” Ujar pak Hendrik dengan antusias.

“Yeaay…biar nanti cabainya banyak gimana pak?” Tanya ibra

“nah biar nanti cabainya banyak, kita bisa kasih pupuk untuk tanamannya, yuk kita ambil pupuknya dulu disana” ajaknya kepada anak-anak.

Ketika tunas telah menunjukan pertumbuhan yang baik dan nampak subur, lantas apakah tidak perlu untuk dirawat?. Tentu perlu, justru memupuknya dengan pupuk anak menunjang ia berbunga dan berbuah. Pun ketika anak-anak kita kini telah menunjukan pertumbuhan yang baik dari waktu ke waktu tantas apakah cukup sampai kita menunggu hasilnya saja?. Jawabnya tentu tidak.

Jika tumbuhan butuh pupuk untuk berbuah, pun anak-anak kita butuh penunjang untuk tumbuh dan menghasilkan karya. Lalu, penunjang apa yang diperlukan?, mungkin sebagian kita akan bertanya demikian.

Anak-anak kita butuh motivasi penguat untuk terus tumbuh, mereka membutuhkan dukungan untuk melangkah ke hari esok yang bisa jadi akan melewati banyak rintangan. Maka bekal penguatan jiwa mereka menjadi poin penting. Kita bisa memulai untuk menguatkan mereka dengan mengulang-ulang hal-hal yang baik, hingga lahir kebiasaan baik. Bukankah kata Aristoteles, keunggulan bukan soal pencapaian tapi juga kebiasaan. Mengulang-ulang perkataan yang baik juga bisa menjadi hal yang bagus agar alam bawah sadar mereka telah tersistem dengan kata-kata baik dari apa yang sering mereka dengar. Kuatkan terus anak-anak kita dengan pembiasaan kebaikan. Suatu hari pasti akan ada hasil yang kita tuai, percayalah.

“Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.”(HR. Muslim, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah )

Hasil dari tanaman yang tumbuh dan berbuah ialah kebermanfaatan

Berjalannya waktu cabai yang anak-anak tanam kini telah menunjukan hasilnya. Mereka begitu antusias memanen cabai yang kini telah kemerahan.

“Kita dapat panen cabai banyak ni, teman-teman mau diapain nih hasilnya?”

“Saya mau jual biar bisa nabung..” jawab Bilqis

“Saya buat dimakan sama gorengan, enak, enak,enak..” ujar Dianti

“Pak..pak saya mau kasih cabainya ke Ibu boleh kan ya?” Tutur halus Zaidah

Masing-masing anak punya cara tersendiri untuk memanfaatkan hasil panen mereka. Yang pasti muara mereka sama, memberi manfaat dari apa yang mereka tanam.

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk sesamangya.” (HR. Ahmad)

Kebermanfaatan menjadi hal inti dari setiap proses. Apalah arti dari sesuatu jika tidak bermanfaat? Adakah ia berharga?. Kebermanfaatan menjadi nilai lebih dari apapun itu. Termasuk kita manusia. Apalah arti kehadiran kita di bumi bila Tanya kebermanfaatan?

Saya percaya harapan-harapan yang telah dipupuk setiap kita sebagai guru dan orang tua adalah agar anak-anak kita tumbuh menjadi insan yang bermanfaat. Betapa bersyukurnya kita anak-anak yang hari ini kita didik sepuluh tahun kemudian menjadi seorang pemuda yang berpengaruh, mampu menjadi pemimpin yang bijaksana, menjadi pengusaha sukses di usia muda, ada yang menjadi pendakwah yang fasih dan sebagian menjadi penghafal Quran. Masyaallah, dibayangkan saja sangat membahagiakan, bagaimana jika itu menjadi kenyataan. Rasa peluh, letih, kesal,dan payah saat mendidik mereka hari ini pasti akan hilang dan berganti kebahagiaan tiada tara bila mengetahuan mereka telah menjadi sosok yang penuh manfaat. Menjadi pemimpin-pemimpin hebat di masa depan.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS. Al-Baqarah:30)

Saya percaya  setiap apa yang kita tanam , bila kita jaga dan kita rawat dengan sepenuh hari, pasti suatu hari ia akan berbuah dan kita bisa memanenya. Pun saya percaya bila hari ini kita harus banyak-banyak bersabar dalam proses mendidik anak-anak, suatu hari bisa jadi kita akan banyak-banyak bersyukur melihat hasil dari apa yang kita upayakan sepenuh hati.

            Fasbir Sabran Jamilah, Bersabarlah, dengan sebaik-baik sabar.

Oleh Abidatul Latifah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *