Kutemukan kembali semangatku

Semburat sinar matahari pagi, menggodaku untuk menyapanya dengan mengangkat salah satu tangan dan menatapnya di sela-sela jemariku. Bunga alamanda yang berguguran di depan ruang guru SAsi, mengingatkanku pada perjalanan hidupku di kota kecil penuh kenangan kurang lebih 1 tahun silam. Tahun-tahun tersebut adalah yang terberat dalam hidup, yang mungkin apabila aku dapat berkata jujur, semua rencana hidup yang telah kurancang sedemikian rupa sebelumnya, hancur tak ada yang sesuai dengan harapan.

***

Satu tahun yang lalu…

2 Mei 2016

Hari itu aku menerima sebuah telepon dari seorang laki-laki panutan keluargaku di rumah. Laki-laki yang pertama kali menyapaku dengan adzan ketika diriku baru saja dilahirkan ke dunia. Laki-laki yang mendampingi bunda di kala senang, sedih, dan sakitnya. Laki-laki yang siap mengirbankan jiwa raganya demi keluarga kami. Laki-laki yang jasanya tidak tergantikan hingga waktu berhenti sekalipun.

“Assalamualaikum, Nduk. kapan kamu wisuda? Ayah dan bunda juga ingin jalan-jalan ke Purwokerto.” Sapa ayah dengan nada riang dan jenaka seperti biasa.

“Waalaikumsalam. Iya ayah inshaa allah Una usahakan secepatnya. Una masih mengurus berkas untuk sidang yudisium, nanti kalau memang sudah waktunya, Una kabari ayah dan bunda lagi. Ayah dan bunda disana tolong bantu doakan Una semoga dipermudah ya. Hmm. . .   ayah. . . ” kata-kataku semakin ragu, air mata mulai mengalir. Tapi ayah seperti mengerti dengan kondisi putri kecilnya. Lalu ayah kembali menanyakan dengan nada sedikit khawatir.

“Una menangis ya ? ada apa?”

“Maaf ayah kalau Una mengecewakan ayah. Maaf juga Una belum bisa janji akan wisuda di periode ini. Karena jadwal yudisium una tidak dapat dipercepat. Harus menunggu di periode selanjutnya. Gapapa kan yah? Tanyaku sambil tertunduk sedih. Ruang dalam dada semakin sesak. Bibir bawah sesekali kugigit, berusaha menahan isak tangis, karena tak tega, sepertinya aku sudah sangat mengecewakan dirinya.

“Oh gapapa. Begitu saja kenapa harus menangis? Yang penting Una sudah menyelesaikan skripsi dan lain-lain kan?  Bunda dan ayah tidak mempermasalahkan wisuda Una tanggal berapa, yang penting Una sudah berusaha yang terbaik untuk sekarang” ujar ayah penuh pengertian.

“makasih ayah. Ayah dan bunda maafkan Una ya belum bisa membahagiakan bunda dan ayah sekarang. Inshaa allah Una janji suatu saat nanti akan membahagiakan  bunda dan ayah. Oh iya ayah dan bunda, sehat- sehat kan? Jaga kesehatan ya. Una sayang ayah dan bunda.”

“aamiin.. sama sama nduk. Ayah dan bunda alhamdulillah sehat. Kamu juga jaga kesehatan ya. Kalau Husna semakin kurus, takutnya, nanti bunda dan ayah mungkin jadi tidak bisa membedakan yang mana Una dan yang mana papan triplek hehehe ?. Una, anak ayah dan bunda, ditutup dulu ya telponnya. Ayah masih harus melayani pembeli di toko material milik kita. Ingat, Una tidak perlu sedih lagi ya. Ayah juga sayang Una. Assalamu’alaikum.” Ayah mengakhiri percakapan hari itu.

“iya ayah. Terima kasih banyak ya ayah. Wa’alaikumsalam” aku menutup telpon darinya dengan air mata yang masih berlinang.

4 mei 2016 , Pukul 02.00 WIB

Handphone yang kuletakkan diatas meja belajar tiba-tiba saja berdering memecah keheningan di ruang kamarku. Sejujurnya aku benci akan hal ini. Benci mengangkat telepon di malam yang seharusnya masih kugunakan untuk terlelap. Tapi entah siapa yang menelepon di malam menjelang pagi seperti ini, pasti ada hal yang ingin disampaikan bersifat sangat penting pikirku.  Kulihat deretan huruf penelpon yang tertera di layar handphoneku. Aku tak percaya dengan yang kulihat, seketika hati mulai resah, tangan pun ikut gemetar, seperti merasakan sebuah firasat akan mendapatkan berita yang tidak baik. Hal ini adalah hal yang kutakutkan sejak dulu ketika pertama kali hidup di kota rantauan. Tentang sebuah berita duka. Malam itu, aku telah kehilangan sosok yang paling berharga.

“Assalamualaikum Una. Bisa pulang hari ini ? sekarang juga. Pokoknya harus sekarang juga … “ kata bunda mendesakku tiba-tiba sambil menahan tangis.

“Waalaikumsalam, ada apa bunda? Una belum bisa kalau sekarang pulang, Una masih harus mengurus yudisium. Tapi bunda kenapa? Bunda menangis ya ? bunda kenapa minta aku pulang ke rumah?” tanyaku khawatir. Banyak hal yang kupikirkan. Semoga tidak terjadi apa-apa. Semoga semua baik-baik saja.

Bunda terdiam cukup lama, sambil menahan isak  tangisnya lalu tiba-tiba tangisnya pun tak dapat terbendung lagi. Bunda menyeka air mata dan mulai berkata, “ ayah husna sudah tiada… husna pulang ya. Bunda tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa lagi. Husna segera pulang pakai kendaraan apapun yang tercepat agar segera sampai di rumah. Bunda juga sudah menghubungi kakak dan adik Una untuk segera pulang ke rumah kita.”

Ucapan bunda seperti petir tanpa hujan di siang bolong bagiku. Aku mengatur nafas, terdiam cukup lama, lalu berkata “ya bunda, husna akan segera pulang.” Kataku singkat, pura-pura tegar. Tanpa mengucapkan salam aku menutup telepon bunda. Aku berdiam diri sekali lagi. Lebih lama dari yang sebelumnya, karena masih tak percaya dengan yang baru saja kudengar dan kualami. Setiap memori kenanganku bersama ayah tiba-tiba saja muncul di pikiranku tanpa berhenti seperti sebuah kaset yang diputar secara otomatis dan berulang. Malam itu aku diselimuti kesedihan, ketakutan, dan rasa bersalah yang teramat dalam sampai akhirnya tangisku pun pecah, membangunkan teman-teman penghuni kosanku. Mereka semua keluar dari kamar masing-masing lalu menghampiriku dengan muka kebingungan. Mereka mencoba menenangkanku dengan merangkulku dan memberi minuman. Namun air mata tetap tak mau berhenti mengalir, seolah upaya mereka sia-sia”

“Ada apa? Coba minum air putih dulu. Tenangkan dirimu dulu, baru kemudian bercerita kepada kami. Pelan-pelan saja ceritanya.”Ujar Shofa, teman terdektku di kosan ini.

“Shofa, aku harus pulang sekarang. Karena ayah.. ayah.. karena ayah aku sudah tiada. Aku takut kalau ini semua sepertinya salah aku. Kalau saja jadwal yudisiumku tidak diundur dan bulan ini aku wisuda, mungkin ayah tidak akan secepat ini meninggalkan aku. Ini salahku shofa” suasana hatiku kacau, tak dapat berpikir jernih dan hanya bisa menyalahkan diriku sendiri.

“innalillahi wa innailaihi rojiun, Una. Una tidak boleh berkata begitu. Siapa yang bilang ini semua salah Una. Ini ketetapan dari-Nya. Jodoh, kematian, dan rezeki semua diatur sama Allah Una. Istighfar.” Shofa merangkul memcoba menenangkanku. Aku ikut beristighfar di dalam hati namun kondisiku saat itu sangat terpukul. Memori sekelebatan tentang ayah yang terus muncul, semakin  menambah rasa bersalahku. Aku merasa sedikit marah kepada tuhan karena telah mengambil tiba-tiba orang yang paling kusayangi.

“Tapi kenapa tiba-tiba Shof, padahal 2 hari yang lalu ayah dan aku masih saling berkomunikasi via telepon dan bahkan beliau masih dalam keadaan sehat.” Keadaan terpukul membuatku lupa bahwa setiap yang berjiwa pasti akan mengalami kematian. Kita tidak akan pernah tahu kapan kematian itu datang. Karena ia datang tanpa pandang bulu, tanpa basa-basi bertanya kepada kita, apakah kita ingin meninggal saat tua renta, gagah dan muda, bergelimpangan atau kekurangan harta.

Hari itu, aku kehilangan orang yang berarti bagiku dan orang yang sangat ingin kubahagiakan. Di hari itu pula, aku tak lagi sama dengan aku yang dulu. Mungkin benar kata orang lain, orang yang pernah kehilangan sesuatu, dia tidak akan sama dengan dirinya yang sebelumnya. Selalu ada perubahan yang menyertainya, baik itu banyak ataupun sedikit. Kurang lebih mirip kondisinya seperti yang kualami sekarang. Aku merasa sedikit lebih tangguh dari sebelumnya dengan semua ujian dari-Nya namun keceriaanku belum kembali seperti dulu. Rencana impian yang akan kulakukan pasca lulus kuliah, terpaksa pupus karena takdir tidak memberi kesempatanku untuk memilih antara dua pilihan, tapi hanya satu pilihan. Yaitu hanya mengikuti ketetapan terbaik dari-Nya.

***

1 Oktober 2017

Sejak aku resmi menjadi seorang fasilitator sekolah inklusi, dan menjadi bagian dari keluarga SAsi tepat tiga bulan yang lalu. Perlahan aku menyadari bahwa hidup terlalu indah untuk hanya diisi dengan kesedihan dan kemurungan. Kemudian aku kembali belajar banyak hal tentang arti bersyukur, sabar, dan keikhlasan dari mereka siswa/i ku, baik normal maupun berkebutuhan khusus. Mereka yang memiliki beragam kondisi, kekurangan fisik/mental tetap stay cool menjalani hidupnya. Hidup seperti tanpa beban dengan tampang polos dan riang, tingkah lugu nan lucu menggemaskan. Mereka tidak pernah menyalahkan orang tua, orang lain di sekitar mereka, apalagi menyalahkan takdir. Sungguh aku malu pernah menjadi hamba yang kurang bersyukur atas segala kondisiku. Sungguh aku juga cemburu pada hamba-hamba-Mu yang memiliki banyak kekurangan namun tak pernah luput dari rasa syukur kepada-Mu. Rasa malu dan cemburu itu kini membuat aku semakin ingin berbuat sesuatu untuk mereka. Meskipun ini adalah tahun pertamaku menjadi guru sekolah inklusi yang notabene belum memiliki banyak bekal dan pengalaman dalam menghadapi ABK sebelumnya. Tidak peduli tantangan dan rintangan yang akan kuhadapi, aku akan tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka.

***

Senin sampai dengan Jumat kuhabiskan hari-hari bersama anak didikku di SAsi. Aku semakin terbiasa dengan ritme kegiatan yang kami lakukan bersama-sama setiap hari seperti shalat dhuha, dan istilah-istilah seperti doa opening, kelas bidang, snack time, lunch time, outbond, refleksi, dan closing. Tak terasa pembelajaran di SD 5 sudah memasuki pekan ujian tengah semester. Kami biasa menyebutnya dengan UTS (Ujian Tetap Senang). Pekan ini berlangsung selama 2 minggu. 1 minggu untuk ujian praktek dan 1 minggu untuk ujian tulis.

Kemarin adalah hari ujian praktek untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Karena tema pembelajaran kami adalah “Brotherhood/Persaudaraan”, maka tim fasilitator SD 5 BantoKu sepakat ujian prakteknya diisi dengan menyanyikan lagu Bahasa inggris yang sesuai dengan tema pembelajaran kami,. Kami memberikan 4 opsi lagu untuk dinyanyikan. Yang pertama, ada lagu One Big Family-Maher Zein. Heal the world-Michael Jackson, Send it on-Selena Gomez, dan Pray-Justin Bieber. Siswa/i ku sangat antusias untuk bernyanyi. Mereka sudah berlatih bernyanyi dan menyiapkan diri di rumah untuk ujian praktek kali ini.

Sebelum mereka benyanyi, aku mengajarkan anak-anak itu mengenalkan diri masing-masing. Kuperagakan cara mengenalkan diri dengan menggunakan Bahasa inggris di depan kelas, dan meminta mereka mengikutiku membacakan kalimat demi kalimat perkenalan dan pembuka acara yang sudah kutulis di papan tulis. Kemudian, aku meminta mereka satu persatu menyanyikan lagu yang sudah mereka pilih di depan kelas.

Mayra, gadis cilik yang hobi menjahit, maju dengan tergesa-gesa. Ia sangat percaya diri. Ia tanpa ragu berdiri di depan kelas dan langsung memperkenalkan diri, meski Mayra menyanyikan lagu maher zein dengan pelafalan kata yang agak terbata-bata, namun sudah cukup baik. Suara tepuk tangan menyambut penampilan Mayra.

Azalea kemudian dengan senyum mengembang berdiri di depan kelas. Postur tubuhnya yang tinggi semampai dan agak berisi, membuat raut wajah Ale nampak imut. Ale senang ujian prakteknya adalah menyanyi karena dia merupakan penikmat lagu apalagi Bahasa inggris. Namun ale cukup gugup saat berada di depan kelas. Butuh waktu sekitar lima menit untuk Ale memulai bernyanyi. Tapi saat dirinya sudah dapat dikendalikan, Ale dapat menyanyi dengan pelafalan Bahasa inggris dengan sangat baik. Ale mendapat tepuk tangan setelah selesai bernyanyi.

Tomy, lelaki mungil yang masih kesulitan membaca dan menulis di kelasku. Tidak, dia bukan penyandang disleksia, kuharap pun begitu. Karena setidaknya, bocah kecil ini dapat menulis dan membaca meski agak tersendat dan beberapa hurufnya kadang ditulis secara terbalik. Mungkin ia hanya perlu menunggu waktu, titik balik dimana ia menyadari dan lebih berusaha bahwa menulis dan membaca dengan lancar itu penting dan dapat mempermudah kehidupannya kelak. Aku yakin Tomy kelak akan pandai membaca dan menulis dan menjadi anak yang sukses. Tomy kini sudah berada di depan kelas. Raut mukanya tampak kebingungan karena ia tak hafal teks lagu yang ia ingin nyanyikan. Lalu kutanyakan dengan lembut padanya.

“Tomy, ingin menyanyi lagu apa? Sudah berlatih di rumah nak?’ tanyaku sambil menatap muka gemasnya.

“One big family bu Una, aku sudah belajar menyanyi di rumah tapi aku engga hafal liriknya bu. Boleh lihat liriknya ya bu ?” ujar Tomy. Ia dapat mengukur sejauh mana batas kemampuan yang dimilikinya. Kalau memang tidak bisa atau kurang memahami sesuatu, Tomy pasti jujur berkata “Bu, aku kurang menguasai hal ini”, ia tidak ingin menjadi anak yang pura-pura tahu segalanya. Aku menyukai kejujurannya, lalu kuperbolehkan ia bernyanyi dengan menggunakan teks. Matanya berbinar senang sekali. Ia mengucapkan salam, mengenalkan diri dan mulai bernyanyi semampu yang ia bisa. Bagiku, anak-anak sudah mau mencoba melakukan sesuatu yang baru untuk mereka, itu pun sudah cukup. Terlepas dari hasil yang mereka peroleh, yang terpenting adalah bagian dari prosesnya.

Rayyan, seorang bocah kecil yang menggunakan alat bantu dengar  dengan tersipu malu, ia maju ke depan menyanyikan lagu “one big family” dengan versinya sendiri. Lagunya dinyanyikan sesuka hati, sekilas mirip seperti sedang membaca sebuah paragraf. Lagu Maher Zein yang dinyanyikannya mendadak menjadi tidak berirama. Walaupun demikian, semua teman-teman tetap bertepuk tangan menghargai jerih usaha rayyan. Ia kemudian kembali ke tempat duduk sambil menunjukkan senyum lega. Yang penting sudah tampil di depan dan bernyanyi katanya ?.

Yuki, siswa bertubuh tinggi dan berkulit putih itu kemudian maju ke depan dengan langkah penuh semangat. Ia anak dengan diagnosa Asperger syndrome. Yuki memiliki kesulitan mengendalikan emosi dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kurang begitu diterima oleh teman-teman lainnya. Anak Asperger biasanya memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Tokoh terkenal yang menderita Asperger syndrome diantaranya Albert Einstein, Isaaac Newton dan Bill Gates. Yuki pun memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan IQ-nya merupakan IQ tertinggi di kelas, Ia menonjol dalam pelajaran Math dan Bahasa. Ia pun memutuskan untuk menyanyikan lagu yang berbeda dari teman-teman yang lain. Yuki memilih untuk menyanyikan lagu “ Pray- JB” saat ujian praktek.  Yuki mengenalkan dirinya dan mulai bernyanyi dengan irama dan lafal yang sangatbaik hingga akhir penampilannya. Dengan dada membusung dan wajah yang sumringah, ia bersuka cita menerima tepuk tangan teman-teman kelasnya.

Naya, gadis lucu dan menggemaskan yang pernah aku temui. Kadang kalau berada di dekatnya terlalu lama, ia bisa sangat menguji kesabaranku. Tapi kalau naya tidak masuk sekolah, tiba-tiba saja aku bisa merindukannya. Gadis kecil yang hobi bermain ranting, benang dan manik-manik ini maju dengan langkah tak bersemangat. Ia termasuk anak yang sulit berkonsentrasi dalam belajar dan memiliki  tingkat kepercayaan diri yang rendah. Ia berdiri di depan kelas dan menyanyikan lagu dengan suara terbata-bata sambil menahan tangis. Perlahan, aku mendekati dan menatap dalam kearah Naya. Saat ditanya alasan kenapa dia menangis, ia menjawab “aku malu bu guru.”

“It’s okay Nay. yang penting kamu sudah mencoba bernyanyi. Kalau Naya hanya menangis, bu Una juga tidak bisa memberikan nilai praktek untuk Naya. Sekarang Naya sudah bernyanyi. Bu Una mau bilang terima kasih ya. Naya sudah hebat bisa tampil dan berusaha bernyanyi di depan kelas. Sekarang menangisnya sudah dulu. Ganti dengan senyum saja ya…?”. kataku berusaha menyemangati Naya kembali. Naya pun hanya mengangguk, tanda ia cukup mengerti dengan yang kukatakan.

Ziya adalah anak terakhir yang maju ke depan kelas. Ziya adalah anak penyandang down syndrome. Ziya memiliki perawakan tubuh agak gempal, kulit yang khas dengan raut wajah ras Mongolia, seperti kebanyakan penderita down-sydrome lainnya. Ziya adalah mood boosterku setiap pagi. Ia selalu menyapaku dengan riang.

“Bu Una, Assalamualaikum” sapa Una tadi pagi dengan artikulasi yang kurang jelas.

“Waalaikumsalam Ziya. Apa kabarnya Ziya? Hari ini Ziya sudah sarapan kah? Sarapan apa nak ?”

“Baik. Sudah. Ziya tadi makan nasi, telur, baso bulat, minumnya air es” jawab Ziya sambil menggandeng sebelah tanganku.

“Wah alhamdulillah Ziya sudah sarapan. Ziya hari ini belajar yang baik sama bu Ara ya.” Kataku sambil fokus menatap mata Ziya. Kontak mata secara langsung saat berinteraksi dengan penderita DS, merupakan salah satu pendekatan untuk meningkatkan komunikasi dengan mereka.

“Iyah bu Una.”  Jawab Ziya sambil tersenyum lebar.

Dan kembali lagi ke ujian praktek Ziya. aku dibuat terkesima ketika ia sudah siap bernyanyi, berdiri dengan manis menguasai area depan kelas. Ia pun bernyanyi dengan penuh ekspresi tanpa menggunakan teks atau handphone pinjaman bu Ara, shadow teachernya. Melihatnya bernyanyi bagiku seperti melihat Ziya melepaskan semua masalah dan kesedihan yang dia alami. Melupakan sesaat bahwa dirinya merupakan anak berkebutuhan khusus yang memiliki banyak keterbatasan/ kekurangan yang diluar sana kehadirannya mungkin tidak diinginkan, dikucilkan atau bahkan dijadikan bahan ledekan bagi orang lain. Aku menyadari bahwa Ziya dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya juga dapat berprestasi ketika mereka mendapat pengajaran yang benar sesuai dengan kemampuan mereka dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Kalau bukan orang terdekatnya (Keluarga, guru, teman, sahabat, kerabat dll), lantas siapa lagi orang yang akan mempedulikan mereka?

Everything is good. Ziya menyelesaikan 1 lagu dengan riang dan full ekspresi. Tidak hanya sampai disitu saja. Setelah selesai bernyanyi One big family dari Maher Zein. Ziya kembali mulai menyanyikan satu buah lagu tambahan lainnya. Lagu berjudul “kasih Ibu” yang dinyanyiikan oleh Ziya sukses membuatku kesulitan untuk mengatur nafas dan menahan tangis. Bagaimana tidak? Ziya menyanyikannya dengan penuh penghayatan dan berulang-ulang.

“Kasih ibu… kepada beta…

Tak terhingga .. sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali.

Bagai sang surya menyinari dunia… “

Ziya menyentuh hatiku terlampau dalam. Aku dapat membayangkan ketika Ziya tampil bernyanyi di depan bundanya, pasti bunda Ziya sama sepertiku. Sebagai seorang ibu, pasti ada masa sulit dalam membesarkan Ziya. Sebelumnya mungkin beliau juga tidak mudah menerima kenyataan pahit bahwa anak tercintanya harus menderita kelainan perkembangan kromosom yang mengakibatkan gangguan motorik, fisik dan mentalnya. Pasti banyak tangisan pilu dan lelah sepanjang perjalanan hidupnya. Tapi kuyakin apabila bunda Ziya melihat penampilannya hari ini, bulir bening dari setiap sudut matanya pasti akan jatuh menetes tanpa ia sadari. Karena rasa haru, bangga, merasa sangat dicintai oleh Ziya dan merasakan semakin mencintai Ziya sebagai bidadari kecilnya. Aku dapat merasakan semua rasa-rasa itu bercampur aduk dalam benak bunda Ziya.

Sungguh Allah sebaik-baik Maha Pencipta. Betapa mulianya Ia, telah menciptakan para bidadari kecil, Anak-anak calon penghuni surga, pelipur lara terampuh sekaligus moodbooster dan penyemangat bagiku.  Allah telah memberiku kesempatan mengenal dan menjadi bagian dari hidup mereka setelah semua perjalanan kehidupan berliku yang kulalui. Allah juga telah menyadarkanku bahwa, proses belajar dapat dilakukan kapanpun, dimanapun dan siapapun dapat menjadi guru bagi kita.

Aku menutup hari itu dengan mengambil hikmah dari semua anak didikku, terutama Ziya. Anak penyandang Down Syndrome di kelasku. Hikmah yang bisa kudapatkan setelah mengenal Ziya adalah Allah telah menitipkan nikmat-Nya berupa kesehatan, fisik yang sempurna, materi yang mencukupi, dan hal lainnya pada kita namun terkadang kita lupa, sibuk atau terlalu lalai bersyukur atas kesempurnaan yang Allah berikan pada kita. Semua nikmat yang Allah berikan selalu bertambah, namun tidak berbanding lurus dengan rasa syukur kita. Seringnya, kita masih merasa kurang cukup dengan yang apa yang allah berikan. Masih mengeluh dan menggerutu apabila ada hal yang berjalan tidak sesuai keinginan kita. Masih cemas akan rezeki keluarga tidak akan tercukupi dan hal lainnya. Padahal Allah sudah menjanjikan kepada kita, dengan bersyukur, Allah tambahkan pula nikmat-Nya kepada kita. Buktinya di luar sana, banyak dari mereka yang memiliki keterbatasan materi, fisik, mental dan lain-lain. Salah satunya adalah Ziya yang memiliki banyak keterbatasan tapi tetap menjalani hidup dengan bahagia karena mensyukuri apa yang telah allah berikan.

Ya Allah, sekali lagi kuucapkan terima kasihku pada-Mu. Terima kasih telah mempertemukanku dengan Ziya. Mengenalnya telah mengembalikan semangatku dan jejak-jejak langkahku yang sempat terserak sebelumnya. Kuatkanlah hati ini kembali menjalani hidup dan jadikanlah aku termasuk salah satu hamba-Mu yang senantiasa bersyukur di setiap kesempatan.  Aamiin.

Oleh Nurul Anisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *