Kesunyian Hutan

“Kenapa kamu malah jadi guru SD sih nov?”

Itulah komentar salah satu sahabatku, Silmi dan Sari saat mendengar kabar bahwa aku sudah berhenti menjadi seorang konselor sekolah di SMK swasta di Jakarta Selatan.

Aneh?mungkin…

Tidak percaya?benar sekali.

Reaksiku?aku hanya tertawa menanggapi komentar mereka.

Ah..rasanya jika kukatakan sebuah alasan. Ini akan menjadi kisah yang cocok untuk kuceritakan pada kalian, yang membaca ulasan dariku ini

Mencari keinginan  diri sendiri untuk sebagian orang pasti berbeda-beda. Ada yang susah payah mencari tahu melalui tes minat dan bakat, ada yang cuek, ada juga yang sudah dari kecil memiliki sebuah keinginan. Sebuah keinginan yang tidak tergoyahkan. Tidak akan tergoyahkan oleh apapun..aku adalah contoh nyata dari contoh terakhir itu.

Impianku menjadi seorang guru dimulai saat masih kelas 4 SD. Saat itu guru sbk memberi tugas untuk membuat gambar yang berisikan cita-cita masa depan nantinya. sepulang sekolah, semua anak kelasku heboh. Ada yang meminta tolong padaku membuatkan gambar profesi mereka. Sebagian sudah tersenyum tenang karena mereka juga sudah tahu apa yang akan mereka gambar nanti malam. Hobbyku adalah melukis semua objek. Ketika bosan otomatis tanganku akan bergerak mencoret sesuatu. Entah itu meja, buku teman sebangku atau tembok kelas. Besoknya, aku anak yang lain sudah bersiap menyerahkan hasil tugas. Ternyata hanya satu gambar saja yang dinilai guru. Sedangkan aku membawa dua gambar kertas A3.

Saat itu, aku biarkan memilih mana yang akan dinilai. Antara gambar seorang guru dan seorang perawat. Bingung karena sama bagusnya. Aku menimbang-nimbang mana yang akan kuserahkan, Sampai akhirnya gambar guru lah yang kuserahkan tuk dinilai dalam mata pelajaran sbk itu. Mengapa bukan perawat?mengapa bukan arsitek seperti saran teman-teman yang lain?ah…keinginan itu memang bebas kok. Dan aku memang bebas memilih apapun yang mau kulakukan.

Meskipun  tahu keinginan besar nanti, tidak membuatku menjadi  pelajar yang taat dalam belajar.  Setelah lulus dari SD dan diterima di SMP N 15 Bekasi aku berhasil masuk kelas unggulan berdasarkan nilai UN  tertinggi. Dikelas inilah, sikapku yang semula amburadul perlahan menjadi agak teratur. Bagaimana tidak? Teman-teman dikelas begitu tenang…masa-masa SMP ku berakhir dengan datar..tanpa gejolak yang berarti.

Ah. Itulah yang kuserahkan saat melihat kondisi teman sekamarku saat pertama kali bertemu di masa orientasi sekolah. Banyak hal yang membuatku menarik diri dari lingkungan kelas. Salah satunya adalah aku tidak tertarik dengan topik tentang gosip. Obrolan yang tidak membawa kesenangan untukku. Lagipula, ini saat yang tepat untuk ikut kegiatan yang menambah kemampuan lukisku. Salah satunya adalah ikut ekstrakulikuler.

Hanya sedikit anggota ekskulikuler Nihon club ini. Sebelum perkenalan dimulai, kami sudah saling banyak berbincang mengenai alur anime atau tokoh yang disukai dalam anime. Meskipun belum saling kenal nama satu sama yang lain tidak membuat kami canggung saling menyuarakan hal yang disukai. Tanpa rasa jaim ataupun malu,-malu.

“Besok kalian bawa karya buat ditempel di mading ekskul ya”

Meskipun masih siswa baru, aku sudah diberi amanah untuk menjadi ketua divisi manga. Mau tidak mau aku harus door to door mengingatkan deadline karya anggota  yang meski dikumpulkan. Karena ada kejadian beberapa gambar dari Nihon club hilang terus…sensei sampai berinisiatif membelikan mading kaca yan ad kuncinya.hihi

Di pertengahan semester, ujian mulai dilaksanakan. Saat itulah banyak kejadian yang merepotkan. Dikelas yang semula tidak mempedulikan kehadiranku untuk diajak berbicara, kini berbalik ramai. Mereka secara bersamaan meminta tolong agar aku mau memberikan contekan ujian bahasa Jepang pagi itu. Aku yang tak terbiasa bertegur sapa dengan mereka hanya mengangguk cuek.

“aku juga ga ngerti bahasa Jepang sih..cuma ngerti gambar anime doang”kataku menolak

Sebenarnya, aku belajar bahasa Jepang sama seperti mereka dikelas. Bahkan sewaktu ekskul Nihon club, aku selalu bolos materi bahasa, aku lebih memilih ngobrol panjang lebar membahas tentang komik atau apapun seputar anime kesukaanku.

“Yang remidial bahasa Jepang semuanya. Kecuali novia”Kata sensei didepan kelas

Aku tidak suka kabar itu, karena hal itulah saat ini aku ditatap sinis oleh teman-teman kelas, khususnya kelompok perempuan yang terlebih dulu kutolak saat mereka meminta contekan padaku. Benar saja, saat bel istirahat berbunyi. Aku segera diamankan ke pojok taman, Mereka bergantian memarahiku, mencap sombong karena bisa bahasa Jepang tapi tidak berbagi jawaban, dan menganggapku tidak seru.

Aku sungguh tidak peduli. Aku tidak butuh teman yang hanya mau mengajakku berbicara saat ada butuhnya saja. Meskipun mereka menjauhiku karena hal sepele itu atau hal yang lainnya. Hal itu tidak mengurangi hal apapun, diluar kelas masih banyak yang perlu perhatianku,yaitu sebagai kakak kelas yang bertugas mengajari teknik gambar pada anak kelas satu. Itulah masa yang paling menyenangkan. Mengajari seseorang sampai orang itu mahir adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

.

.

.

“Nih hadiah buat kamu karena tidak mengerjakan tugas!!!sini kan muka mu”ujar Bu togina dengan suara khas bataknya. Sambil sesekali ceramah, tangannya gesit menempelkan penghapus papan tulis yang ia bawa dari kantor guru ke pipi masing-masing anak yang tidak membawa tugas buku besar  hari itu. Hening dan khidmat situasi kelas, ditambah mereka  yang tidak mengerjakan tugas diberi hadiah bedak surga, (nama hukuman yang diberikan oleh kakak angkatan yang sudah terbiasa dipoles mukanya dengan penghapus papan tulis.) Sudah dipastikan yang terhukum merasa dipermalukan.  Dibangku kelas  aku susah payah menahan tawa. Inilah alasan mengapa pengahapus papan tulis selalu dsembunyikan, tapi Bu togina selalu siap membawa  penghapus papan tulis di tasnya. Uhh..ajak mat! Perlu digaris bawahi… hanya aku, siswa dikelas  yang belum merasakan bedak surga itu diwajahku. ?

Dari kejadian itu setiap mata pelajaran ekonomi, sebagian besar anak-anak mulai datang lebih pagi ke sekolah. Rajin?bukan….itu karena mereka sengaja agar bisa  nyontek berjamaah  sebelum bel masuk. Berkaca dari hukuman yang tiap minggu pasti ada korbannya, aku memilih taat peraturan. Yaitu lebih rajin mengerjakan tugas terutama tepat waktu datang kekelas,.dengan kata lain tidak membolos seenaknya lagi.

Ketika hasil snmptn undangan diumumkan, dari setiap kelas ada sepuluh anak yang sudah dipastikan menerima undangan tersebut. Syaratnya hasil nilai dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas, harus naik terus, tidak ada penurunan dihasilkan nilai raport sekolah. Rasanya malas sekali mendengar pengumuman itu, aku lebih memilih tidur dikelas karena mengantuk.

“Oi nop..nama lu sama gue  tuh kepanggil. Keruang guru yuk”ajak febyola teman sebangku sambil menggoyangkan bahuku keras, seperti biasa. Tenaga kuda.

“Hah?”aku terkejut setengah tidak percaya.

“Masa?”lanjutku heran, ia menarikku keluar kelas menuju kantor.

Tidak seperti dia,temanku ini pintar, dia bahkan ikut les untuk persiapan simak UI. Jika namanya masuk daftar undangan snmptn sangat wajar. Bukan hanya dia saja yang merasa aneh aku masuk kedaftar undangan. Sementara melihat hasil transkip dan sibuk memilih 2 universitas yang ada di formulir pendaftaran.

“Kenapa ga milih desain nov?”

“Gambar cuma hobby”

“Terus lu milih apa?

“Pertama psikologi di Unand atau UNJ sih. Kalo lu apa?”

“Gue sih tetep hukum. Jadi guru nih?haha jangan ajarin yang nggak-nggak entar”

“Bagus tuh. Yee.. engga lah”

Febyola,bisa dibilang sahabat terdekatku dikelas ips selama dua tahun. Dia satu-satunya orang gokil yang tidak peduli apapun pendapat orang tentang dirinya. Yang paling kusukai darinya adalah saat dimana perkataan awal-awalnya kadang bisa jadi kenyataan. Kami sering mengatakan itu adalah asbun. Iya,asal bunyi…yah, tapi sama dengan dia, aku pun kadang bisa lebih asal. Maka dari itu kami sangat  klop, sambil sesekali menertawakan fakta yang ada. Yap..saat kami duduk berdua di saung sekolah adalah masa yang paling menyenangkan. aku kangen masa itu…

Hasil snmptn undangan sudah tahap akhir seleksi.. diantara kami, yang daftar bersama melalui online tersebut, febyola lolos masuk Untirta jurusan hukum sesuai yang ia inginkan. Sesuai dugaan ku sebelumnya aku tidak lolos masuk psikologi Unand ataupun unj. Sedih…Tapi aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat dugaan ku benar terjadi,atau saat itu aku sudah siap mental saat tidak berhasil?aku sendiri tidak tahu kemana perasaanku. Yang jelas, selama aku memiliki semangat dalam diriku..semua akan baik-baik saja.

Aku tahu, tidak semua orang bisa beruntung dapat memilih dengan bebas apa yang ingin ia lakukan dimasa depan. saat aku gagal, orang tuaku mengatakan hal yang baik. Tidak mengecilkan hatiku, beliau membesarkan hatiku dengan menyuruhku ikut SNMPTN jalur umum, yang pada akhirnya kutolak. Aku lebih memilih kuliah di kampus swasta.

Entah mengapa aku berada dilingkungan ini. Daripada menyesali keputusan..aku berharap mood ku membaik. Lingkungan yang baru, kawan baru, penampilan baru karena mulai berhijab dan sepotong hati yang masih lama. Sedikit banyaknya aku masih kecewa tidak bisa menepati janji supaya bisa sekampus bersama orang special, karena pada akhirnya kami akan kalah dengan jarak dan keadaan. Semuanya kembali menjadi biasa. Hingga akhirnya kuputusoan untuk mencari kesibukan agar kesedihan itu terpendam.

Meskipun waktu yang kulalui memang padat, meskipun hari yang kulalui penuh canda tawa dan hal yang baru. Itu tidak membuat kosongnya hatiku menghilang. Aku merasa ada yang hilang…dan itu menggangguku. Sampai akhirnya sepupuku yang satu kampus dengan ku bersama pacarnya memberiku sedikit pencerahan.

“Kenapa lu sibuk mikirin masa lalu?belum tentu dia juga mikirin lu. Buka mata lu masih banyak yang lebih menarik dari dia”

Meskipun terluka sekalipun, dunia yang kujalani tidak akan terbalik. Aku tak mengira jika tanpa disadari aku menyimpan hatiku ditempat yang jauh. Seperti jauhnya jarak hutan dipuncak sana. Aku tak mengira jika aku bisa sesedih ini, aku tak mengira jika semua kesibukanku adalah cara untuk memendam kenangan itu. Cara yang menyakitkan untuk melanjutkan hidup.

Ah. Untuk memahami jika aku terlalu bersedih..bahkan membutuhkan waktu lebih dari dua tahun. Aku terlalu terlena dengan diriku..tidak peduli jika ada  banyak orang yang memberikan perhatiannya. Perhatian yang juga seharusnya kuhargai, sudah berapa lama aku bersikap egois seperti ini? Aku….terlalu lama merasa sendiri dan pergi sesuka hati.

.

.

.

“Oke. Tunggu ya,” ujarku mematikan telponnya.  Saat aku turun dari lantai atas. Ia sudah menungguku  dilobby, entah kenapa aku menerima ajakan diskusinya mengenai organisasi mahasiswa, padahal aku bisa berdiskusi tentang organisasi pada rapat pimpinan besok paginya di sekretariat BEM. Aku masih ingat saat ia tidak sungkan membagi saran untukku agar lebih baik lagi dalam memimpin organisasi, saat ia mengajariku lebih bersikap lembut sebagai perempuan lainnya. Ia seolah memiliki visi untuk mengubahku.

“Kalo Rozza. Komik buat kakak udah jadi”

aku punya kebiasaan yang menurutku romantis, yaitu memberikan karyaku sendiri tentang orang yang special bagiku. Meskipun hubungan kami berakhir karena kami saling tidak cocok. Bukan berarti pertemanan kami selesai. Dia yang terlalu posesif tidak cocok dengan diriku yang bebas tak ingin terkekang.

Darinya, aku belajar untuk lebih lembut dan sabar. Karakter yang sampai kini masih kupelajari. Yah, semuanya yang baik memang butuh proses yang tidak sebentar iya ‘kan?

 

 

Untuk bisa menemukan apa yang kusembunyikan jauh disana..aku tak bisa begitu saja membuka lembaran kisah yang baru. Aku bahkan lebih sulit membuka diri meskipun terlihat tanpa beban sekalipun. Pada akhirnya semakin kita ingin memiliki justru kehilangan  hal itu adalah konsekuensinya. Sekalipun ingin tetap mempertahankan, atau mendobrak ia agar keluar atau menjauh. Selama kita hidup…hal baik dan buruk selalu berjalan beriringan. Begitu selaras dan adil. Indah ‘kan?

Satu tahun di semester akhir. Aku kembali menjadi mahasiswa biasa, mahasiswa yang hanya datang dan pulang saat ada jam kuliah.  Tidak seperti tahun lalu Atau drama klasik yang sering dialami remaja lainnya. Aku sudah sampai titik dimana aku sudah enggan bersibuk ria ataupun menikmati euforia tersebut. Kalau kata orang lain, aku sudah bertobat. heh…apa iya?

Ketika sudah memasuki masa skripsi, suka dukanya terasa mengesankan. Ketika waktu yang berjalan seolah lamban. Atau susahnya menunggu kepastian kapan bertemu dospem. Belum lagi ternyata dosenku masuk fase sakit…stroke..koma lalu meninggal dunia, innalilahi. Setelah 1 bulan dari wafatnya beliau, barulah prodi memberikan surat pengganti dosen skripsi yang baru.

Tertekan? Pastinya…karena saat semua orang sudah lanjut sampai tahap penelitian disekolah, aku masih menyusun judul skripsi dan mulai revisi bab 1. Rasanya?jangan ditanya deh…. rasanya air mata sudah kering, karena sering nangis bombay di kosan teman. Sambil menggila bersama Yuni, Sari dan Sonita kami tentu saja selesai diluar dugaan! Power orang tertekan atau power orang terdesak ingin cepat wisuda.sidang skripsi…dahsyat sekali. Biasanya mahasiswa menghabiskan masa paling cepat nya 6 bulan sampai tahap abstrak. Aku, Yuni dan Sari memangkas masa itu menjadi 2 bulan saja! Dalam waktu dua bulan, kami bisa mengikuti sidang skripsi tepat waktu. Mantap guys~

 

“Setelah wisuda. Mau ikut program profesi?”tanyaku bersemangat. Mencari kawan seperjuangan nantinya. Hal ini sudah sering dibahas dari 2 tahun yang lalu, saat materi kuliah  konseling diperluas. Kami berniat mendirikan sebuah perusahaan konselor di Jakarta suatu saat nanti. Iya..nantinya. belum tahu kapan

“Gue sih mau. Target dua tahun lagi lah..”Nita memberi tanggapan, sama sepertiku. Ternyata. Aku tersenyum senang.

“Gue ngga lanjut kuliah..mending nikah dulu”sambung Yuni, bukan hanya tertawa kami pun saling meledek.

“Hush..uni dulu yang nikah jangan nyelak lu hahaha”ujarku tertawa. Sari cuma ketawa dongkol sudah sering kami bujuk biar nikah secepatnya.

“Lu aja dulu nop. Katanya dah tobat gamau pacaran..nikah duluan, saya mah ikhlas”balas sari membuatku bungkam. Aku diam saja, kalau salah tanggap bisa panjang urusannya.

 

Sebelum wisuda, aku bersama Sonita sudah mulai aktif mengajar di SMK swasta di Jakarta Selatan. Hari-hari kami lumayan berat, anak-anak SMK benar-benar menguras energi tenaga, dan waktu, tak jarang Sonita kehabisan suara setelah pulang mengajar. Padahal kami masih ada tugas kuliah setelahnya. Dia itu penyanyi gereja yang suaranya bisa mengalahkan speaker di kampus. Suaranya super keras dan lantang. Dia teman cewe tertangguh yang pernah kukenal. Tapi….yah, memang anak SMK perlu dibina secara intens, kami berdua mengaku kewalahan.

“Bunov..anak kita parah banget…”

“Sabar Bunit.  Minum es dulu yu”

“Parah ish..suara gue habis”ujar nita bersuara mirip nenek. Aku tertawa, karena sampai sekarang suaraku selalu ‘on’

“Btw, lu kudu nemenin gue ya pas ngajar di kelas. Kelas PM bikin pusing”aku mengangguk siap. Mau bagaimana lagi, Nita yang minta.

Kami sama-sama guru konselor SMK. Kami diberi perintah untuk mengamankan anak-anak agar tak terlibat hal yang tidak baik. Nita pun kadang patroli disekitar jalan kalibata-lenteng agung-kemang. Aku kadang mengandalkan mata-mata dari anak kelas yang bisa memberikan informasi jika ada kasus baik didalam sekolah maupun diluar sekolah.

Aku bahkan sampai kehabisan kata-kata saat diberi informasi jika anak kelas 10 memakai narkoba saat masih dikelas. Aku langsung mendatangi kelas melihat kejadian itu. Dan benar saja, gadis kecil berwajah cantik itu sibuk membersihkan sisa bungkusnya.

Saat melihat dengan mata kusendiri..rasanya ingin kutampar anak itu, atau lebih parahnya lagi kulempar dari lantai dua kelas AK ini. Diam menahan emosi, Sonita sudah lebih dulu menarik kerah seragam dari arah belakang. Menyeret anak itu keruang BK meski teriak meminta dilepaskan.

Di sekolah. , sebelum memasuki kelas harus menyimpan handphone kedalam box yang sudah disediakan di setiap kelas, masing-masing dari kelas bertugas menyerahkan ke guru  piket. haram hukumnya membawa handphone kedalam kelas. Kecuali guru kelas sudah meminta izin guru BK untuk memperbolehkan anak kelasnya akanmemakai internet untuk materi ajar. Selain itu, jika tertangkap hukumannya berhadapan denganku atau kepala sekolah.

Tak tok tak!..suara yang dihasilkan dari sepatu pantofel ku sudah cukup membuat kelas yang awalnya ricuh menjadi lebih tenang. Aku sedikit tertawa dalam hati, setidaknya mereka bisa sejenak fokus ke guru kelas yang sedang mengajar saat aku sesekali lewat dikoridor. Istirahat sekolah, baru kali itu aku dapat bergabung makan bersama dengan guru, biasanya kulewati bersama Sonita mengawasi siswa yang biasanya tertangkap sedang merokok dikantin.

“Bu Novi, terus lewat dong dikelas saya ngajar.. kalo dengar suara sepatu ibu baru kelas bisa tenang..duhh”

“Waduh…sampai segitunya Bu?haha”tanyaku tak percaya,

“Iya tuh. Kok bisa takut sama Bu Novi ya…padahal Bu Novi kan gak galak”

Duk!Sonita tiba-tiba datang ikutan dengar, saat aku dibilang tidak galak. Ia menolak habis-habisan pujian guru senior itu padaku.

“Bu ibu jangan tertipu…novi itu seratus kali lipat galaknya dari saya Bu!”ujar nita berapi-api. Setengah dari guru senior itu tak percaya, Nita makin menyalak

“Pernah lihat saya marahin anak ‘kan?”tanya Nita.

“Pernah. Tegas banget Bu Nita”tanggap guru itu

“Nah. Itu belum seberapa dari tegasnya Bu Novi”

“Ouh”tetap respon tak percaya, Nita makin kesal. Aku tertawa sampai air mataku mengalir. Padahal aku sendiri mengakui kok, aku memang sangat galak, aslinya.

 

Seperti biasa, aku hanya akan berhenti didepan kelas sambil mengangguk ke arah guru kelas tuk meminta izin sidakku. Aku memang rutin dadakan memeriksa kelas sambil sesekali menyemangati mereka lebih fokus belajar. Dari luar kelas aku sudah tahu, ada siswa yang menggunakan handphonenya untuk menonton video. Dengan segera aku masuk kekelas, dengan gerakan cepat pula ia menarik handphonenya agar tidak kuambil. Aku mendelik tidak suka perlawanannya, dengan gerakan terbatas karena ia lebih tinggi dariku, aku tidak bisa mengambil handphone itu dari tangannya.

“Udah kasih aja aja sih..lu kan salah bawa hp ke kelas”ujar teman-teman sekelasnya. Aku masih diam saja, tapi saat ia mengaku sudah dapat izin dari kepsek, membuat ku marah.

“Beraninya kamu berbohong!!!kemarikan hp kamu itu!”ucapku menggelegar. Kelas langsung hening. Dia tak gentar melawan perkataanku

“Udah gue bilang. Gue udah izin. Dibilangin” balasnya, tak ada sopan santun membuatku makin geram. Aku langsung meraih lengan yang memegang hp itu dengan keras, lalu kurebut paksa dengan kuat. Dia memang menahan tapi aku bisa berhasil mendapatkan hp itu, ia menggeraman tidak suka dan mengeluh sakit saat tangannya kupaksa menjauh.

“Nanti pulang balikin Bu!!”ancamnya.

“Diam. ibu balikin setelah kamu naik kelas sebelas”ujarku santai. Ia makin melotot kesal. Setidaknya 6 bulan hp itu akan jadi pajangan di lemari BK. sebenarnya dikelas itu ada banyak yang handphonenya tersita, mereka lebih memilih mematuhi konsekuensi. Meski beberapa ada yang menangis memberikan alasan mengapa ia menggunakan handphone saat di kelas. Aku tetap tak peduli.

“Kalau kalian memang butuh. Kalian bisa meminta izin dari pagi, kalau memang mendesak dan penting. Ibu ga akan melarang penggunaan hp. Beda cerita jika kamu tanpa izin..sudah tahu konsekuensi nya kan?”

“Iya Bu..tapi..kan…hiks”tangisnya tak reda juga. Aku membiarkannya menangis sampai berhenti sendiri. Tahu takkan berhasil, iapun kembali kekelas.

Aku meminjam kunci house kepping, ruang praktek perhotelan yang bersetting seperti ruang hotel yang lumayan nyaman. Karena kepala ku terasa berat dan aku sedikit lelah karena menjadi guru piket. Sambil menunggu jam masuk untuk les privat di daerah Tebet dalam, aku ingin tidur sejenak di house kepping, Setelah menyalakan AC, aku berniat tidur. Tapi SMS masuk dari guru yang meminjami kunci HK, intinya putra masih mencari ku ingin meminta hp nya kembali. Kali ini ia bahkan sampai memukul keras ruanganku, aku yang berada di samping ruanganku sampai terkejut.

‘Bu. Udah kasih aja hp nya..anaknya ngamuk tuh. Dia nyari Bu Novi..ga mau pulang sebelum ketemu Bu Novi’

Rasanya kepalaku makin berat. Masa guru laki-laki ga bisa nahan satu anak laki-laki sih….duh. aku langsung menelfon pak Sarmin. Guru kesiswaan.

“Udah pak biarin aja. Saya balik sore kok..karena ada les nanti magrib, biarin aja nunggu diluar. Saya mau istirahat. Tolong ya pak”

Diluar hujan, petir mulai menyambar keras. Aku bahkan sampai takut akan banyak hal. Selain petir itu, aku memang trauma dengan petir..dan, ternyata putra masih saja menggedor pintu house keeping, memintaku keluar menyerahkan hpnya yang kusita tadi pagi. Ini pertama kalinya aku merasa takut seakan diteror…

Besoknya, aku memanggil ibu dari anak itu ke sekolah. Siang hari ibu putra datang keruanganku, ia menceritakan dengan detail mengapa putra bisa seegois itu. Ia besar bersama neneknya dikampung, selama itu pula ia tak pernah bertemu orangtuanya karena urusan pekerjaan di Jakarta. Baru beberapa bulan saja ia tinggal dengan orangtuanya di Jakarta. Karena watak putra yang keras..ibunya ini tak bisa mencegah putra. Ia membiarkan putranya memiliki yang ia inginkan. Apapun itu. Aku menyerahkan handphone putra pada ibunya.

“Ini sudah jadi peraturannya jika siswa dilarang memainkan hp dikelas”

“Iya Bu. Bagaimana?”

“Silahkan ibu yang pegang hp ini, berikan jika putra sudah naik kelas”

“Iya Bu. Makasih Bu”

Beberapa hari kemudian, putra tertangkap polisi saat membawa senjata tajam dikawasan duren tiga dini hari. Informasi itu tersebar luas sehingga aku memanggil orang tua siswa yang bersangkutan untuk datang menghadap sekolah. Ternyata tidak ada respon dari wali murid, aku diperintahkan kepsek untuk datang ke Polsek melihat keadaan putra. Tidak banyak yang bisa kami bicarakan selain melihat keadaan dan memberikan semangat padanya.

Sejujurnya, aku sudah merasa amat lelah memberi instruksi ataupun konsultasi yang tidak membawa perubahan berarti pada diri siswa yang mengalami masalah itu. mereka tahu mereka memiliki masalah, tak peduli seberapapun semangat yang kutularkan..itu seolah tak berarti. Tak berguna. Mereka seakan makhluk mati didalam jasad yang bernyawa..

Aku tahu….aku terlalu dini mengganggap diriku gagal sebagai guru. Bukan hanya satu…tapi seolah impian tidak ada didalam rencana jangka panjang mereka sendiri. Tak peduli berapa kali kudorong mereka untuk mampu..mereka sudah menyerah sebelum mencoba. Hatiku terluka melihat mereka begitu negatif melihat hidup. Untuk pertama kalinya, aku menangis karena tak sanggup mengubah pola pikir mereka yang negatif. Mereka muda dan waktu yang tepat untuk berkarya..tidak seharusnya seperti itu. Melihat tidak ada perubahan signifikan dari mereka kunyatakan aku menyerah dihadapan kelas itu. Aku menangis dikelas itu.

“Tidak peduli sehebat apa seorang guru didepan kelas. Kalian akan tetap berperilaku sama dan ga berkeinginan tuk belajar. Harus kalian tahu, saat kalian masuk dunia orang dewasa. Kalian yang tak bergerak mencari sumber belajar dan pengalaman akan merasa sulit hidup. Kalau nantinya kalian sadar. Berjuanglah. Miliki hati yang kuat dan tak menyerah”

Tidak ada jawaban, mereka hanya memandangiku yang menangis sambil berbicara panjang. Aku bukanlah orang yang mudah menangis dihadapan orang lain.aku bahkan malu menunjukkan bahwa diriku punya kelemahan…aku tidak kuat terlihat lemah, tapi saat itu..aku meneteskan air mata tanpa bisa kutahan. Nafasku tercekat saat kulihat mata mereka tetap tak berubah. Tidak ada yang bisa kuubah dari mereka, sedikit banyaknya aku telah semampuku menolong mereka, aku hanya sebagian kecil yang gagal menghadapi mereka. Kupikir dengan segenap semangat yang miliki dan sedikit pengalaman yang bisa kuajarkan pada mereka bisa membuat mereka sedikit mampu.

Tapi, ternyata tidak…

Saat sidang kenaikan kelas. Dari hasil voting yang memberatkan putra untuk naik kelas ada banyak suara dari para guru. Aku tetap bersikeras tak mengubah suaraku..meski kepala sekolah mengancam ku untuk menemui yayasan jika aku tetap tak setuju. Aku tetap pada keputusanku. Dia tidak naik kelas, bukan hanya karena siswa tersebut mantan narapidana, tapi ini lebih lebih ketinjauan dia jika naik kelas sebelas nantinya…perilaku, moralitas dan akademiknya tak menunjang ia naik kelas. Meskipun  ada guru ada sepandapat dan membela keputusanku.  Keputusan kepsek memutuskan siswa tersebut tetap naik kelas membuatku sadar tidak ada harapan lagi dari sekolah ini. Melihat itu, aku langsung menyatakan diriku mundur sebagai guru konseling.

Jika ditanya mengapa menjadi guru?aku bahkan tidak ingat lagi alasan itu…aku hanya masih mengingat perasaan menyenangkan saat anak didikku berhasil lepas dari kondisi apatisnya. melihat ia semakin bisa menikmati hidup dengan rasa peduli. Aku bisa melihat perubahannya saat ini setelah masuk universitas.  Sebelumnya ia sosok yang penyendiri, kini dia berubah sedikit demi sedikit..perubahannya itulah yang membuatku senang. Aku sempat membuat ia melukai tanganku saat ia menolak tuk berbicara didepan teman dan adik kelasnya. Karena ingin ku maafkan, ia akhirnya berbicara panjang didepan teman dan adik kelasnya. Itu pertama kalinya ia berbicara panjang selama disekolah. Tidak membuang kesempatan langka, banyak yang mendokumentasi pidatonya.

“Jarang-jarang lihat qory mau bicara didepan umum”ujar banyak orang sambil mengangkat layar handphonenya.

“Jika bukan karena sensei saya ga akan bicara didepan orang seperti itu”

“Benar juga. Sampai luka dulu baru kamu mau bicara ya”balasku sambil tertawa menunjukkan jariku yg terluka. Ia melihatku kesal dan menarik tanganku yang terluka.

“Gimana rasanya bicara didepan umum?”

“Biasa aja..sedikit gugup”jawabnya sambil menempeli obat ditanganku. Ia memang merasa bersalah atas tindakannya saat menolak memberikan pidato.

“Jika kita bertemu sebagai teman, saya rasa saya tidak akan ada perubahan”

“Kenapa memangnya?bukannya enak bisa ngobrol panjang seperti ini dengan teman sendiri?”

“Iya, justru karena sensei adalah guru..saya bisa sedikit bisa berubah.kalau ga bertemu sensei, saya ga akan bicara sebanyak ini ke teman yang lain..”

Karena aku seorang guru, maka perubahan itu ada. Kata-kata yang manis dari siswa yang biasanya hanya diam dalam kondisi apapun. Perubahan itu ternyata membuatku bisa tersenyum lagi dan lagi.

Aku sangat senang mendengar kata-katanya, seolah memberiku kekuatan saat dimana aku merasa tidak berdaya menjadi seorang guru.

Bisa dikatakan, dengan menjadi guru sekolah dasar adalah sesuatu yang sulit. Silmi berulang kali mengatakan bahwa aku cukup nekad. Ibuku sendiri mengatakan aku tidak cocok menjadi guru sekolah dasar. Meski diberi vonis seperti itu, apakah aku langsung menyerah?tidak…aku tidak menyerah.

Aku mencarisemangat yang ada pada diriku untuk tetap yakin jika aku tidak salah. Tidak ada yang salah dari perubahan yang kuinginkan. Kegagalan dimasa itu kugenggam erat, akan kuingat bahwa aku pernah tidak mampu. Aku tidak memiliki kemampuan lebih..karena itu mereka tidak dapat menemukan motivasi hidup yang baik.

karena itu..aku takkan menyerah. Dengan pemikiran itulah kaki ini melangkah masuk ke sekolah yang bernuansa alam. Aku mencari perubahan yang baik pada diriku, dan juga sedikit demi sedikit bisa mengubah dunia sekelilingku. Dunia tanpa impian sangatlah hampa.

….Aku tidak ingin merasakan kehampaan itu lagi.

Oleh Novia Rozana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *