Kapan Sekolah Lagi ?

 

KAPAN SEKOLAH LAGI?

Oleh: Agus Gusnul Yakin

“Yah, kapan sekolah dimulai lagi?” Tanya putri kecil saya saat ngobrol santai di meja makan. Ini pertanyaan yang kesekian kali yang saya terima dalam sepekan terakhir, setelah sebelumnya juga ditanyakan oleh orang tua murid, teman kampus maupun kolega dari sekolah lain. Pertanyaannya sama, tapi motifnya mungkin berbeda. Sebagian benar-benar hanya ingin tahu jadwal. Tapi sebagian lagi kelihatannya ingin tahu tanggapan saya terkait opini tentang penolakan pembukaan sekolah dalam waktu dekat. Sementara motif pertanyaan anak saya, kayaknya untuk spoiler kepada teman-temannya 🙂

Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, karena pandemi belum berakhir. Kedua, hari-hari ini sedang berhembus kencang opini umum tentang kecemasan dan penolakan orang tua terhadap rencana pembukaan kembali sekolah dalam waktu dekat.

Pasti ada banyak pro-kontra dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Selaku pendidik, tentu kepedulian utama kami adalah anak-anak. Keselamatan dan kesehatan mereka adalah yang paling utama. Di sisi lain, kami juga sadar, walaupun sudah jungkir balik mencari metode yang pas, pembelajaran online tetap tidak seefektif pembelajaran langsung di sekolah. Apalagi tidak semua orang tua punya cukup waktu dan kemampuan (juga kesabaran hehe) untuk mendampingi anak belajar di rumah.

Saya setuju, pembukaan kembali sekolah mesti dipersiapkan dengan hati-hati dengan mengoptimalkan mitigasi resiko penularan. Kami di sekolah alam mungkin memiliki kondisi awal yang lebih menguntungkan, karena jumlah murid tidak terlalu banyak, rasio guru-siswa kecil, memiliki ruang terbuka hijau, ruang kelas semi terbuka. Tapi itu pun tidak cukup, karena harus dibarengi disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan bagi seluruh warga sekolah.

Selain persiapan yang matang, pembukaan sekolah juga perlu dilakukan secara bertahap. Saran saya, skenario pembukaan sekolah melewati 3 fase sebagai berikut:

1. Fase Transisi
Fase ini dilaksanakan pada periode Juni – Juli 2020. Pada fase ini, secara umum siswa masih belajar dari rumah. Namun sepekan sekali ke sekolah untuk mengikuti Green Therapy dalam kelompok kecil dalam durasi pendek (2 jam). Bagi siswa TK, Green Therapy dilaksanakan bersama orang tua. Sementara itu, guru dan staf mulai bekerja di sekolah dengan sistem shift. Fase transisi perlu dioptimalkan untuk sosialisasi, edukasi dan pembiasaan protokol kesehatan.

2. Fase Adaptasi
Fase ini dilaksanakan pada periode Agustus – Desember 2020. Sistem pembelajaran menggunakan sistem blended learning yang mengkombinasikan belajar dari rumah dengan belajar di sekolah. Kurikulum dan program pembelajaran difokuskan untuk menguatkan imunitas, baik secara fisik, mental maupun spiritual. Kegiatan belajar di sekolah dapat diadakan 2 hari per pekan, lalu ditambah menjadi 3 hari jika kondisi sudah memungkinkan. Pada fase ini diharapkan seluruh warga sekolah sudah mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru yang lebih sehat dan rahmatan lil’alamin.

3. Fase Integrasi
Fase terakhir terjadi saat pandemi sudah benar-benar terkendali (bahkan hilang, semoga). Kegiatan belajar sudah dapat dilaksanakan secara normal di sekolah. Namun, kebiasaan baru sudah terbentuk dimana seluruh warga sekolah sudah menerapkan kebiasaan hidup yang sehat dan rahmatan lil ‘alamin dalam keseharian. Di sisi lain, siswa dan guru juga sudah terbiasa dengan sistem pembelajaran daring yang mengintegrasikan penggunaan teknologi.

Dengan persiapan yang matang dan tahapan yang terencana dan terkelola dengan baik, diharapkan pembukaan kembali sekolah tetap sesuai dengan tujuan dasar pendidikan, yang oleh Prof. Dr. Yus Rusyana disarikan dalam 3 kata: selamat, manfaat dan nikmat.

Anda punya pendapat lain? Mari berdiskusi 🙂

Salam, AGY.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *