Jejak Pejuang Alam

Hamparan laut biru luas membentang, sesekali diiringi suara dentuman ombak memecah batuan di pinggir pantai. Tertanam jejak-jejak para pejuang di atas pasir yang putih dan bersih. Pejuang yang sedang digembleng untuk menjadi mujahid tangguh di masa depan, mereka yang kuat dan tegar menjalani tempaan zaman kelak. Di sini kami membersamai mereka untuk menyaksikan kebesaran Sang Pencipta melalui maha karya terindah yang tak jemu dinikmati indera, semoga senantiasa lisan ini mengucap syukur atas apa-apa yang kami temui dan saksikan dalam misi kali ini.

Yaa, ini saatnya waktu yang telah ditunggu-tunggu sejak lama, awal Mei 2017. Semua sudah tak sabar menanti keberangkatan kali ini. Perjalanan yang cukup panjang dan tentunya tak ringan untuk anak yang duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Perjalanan kami kali ini berlangsung 5 hari melintasi hutan, sungai, bahkan menyeberangi lautan. Demi mendidik mereka menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan tangguh.

Siang ini kami berkumpul di sekolah kami tercinta, the OASIS school, Sekolah Alam Bekasi. Anak-anak sudah bersiap dengan segala perbekalan mereka. Ayah dan Bundapun melepas kepergian kami dengan iringan doa. Ku dapati ada beberapa dari orangtua yang memeluk erat dan mencium buah hati tercinta disertai dengan isak tangis. Betapa terlihat rasa sayang orangtua terhadap anaknya. Akupun tak kuasa membendung buliran jernih yang akhirnya tumpah jua melihat adegan itu. Saatnya kami harus pergi, sesaat meninggalkan segala fasilitas yang biasa kami nikmati setiap harinya. Kami pergi menggunakan armada bus yang telah disiapkan dari sekolah. Langitpun mulai gelap, Sang Pencipta sudah mempergilirkan kuasa-Nya, mengganti kehangatan mentari menjadi kesejukan di bawah sinar rembulan. Dan ini pun saatnya kami tidur, guna menyimpan energi untuk beberapa hari ke depan. Sesekali terdengar suara canda tawa dari anak-anak yang masih bercerita dan berkelakar, demi mengalihkan rasa sedih yang mereka rasakan. Tak terasa pagipun menjelang, Alhamdulillah kami telah sampai di Pelabuhan Sumur. Ini kali pertama perjalanan panjang yang aku lakukan bersama anak-anak. Banyak aktivitas yang kami lakukan bersama selama ekspedisi Taman Ujung Kulon 4 kali ini. Hari pertama kami menemui para nelayan untuk melakukan wawancara serta tak lupa berbelanja ikan asin, yang akan kami jadikan buah tangan untuk orangtua kami. Awalnya anak-anak merasa sedikit risih dengan bau ikan asin yang cukup menyengat, namun setelah berinteraksi dengan para nelayan, bau ikan asin sudah tak lagi mereka hiraukan, apalagi saat kami diperlihatkan hasil tangkapan nelayan berupa ikan pari yang besar. MasyaAllah itu hal yang sangat berkesan bagi kami. Banyak hal yang kami pelajari dari para nelayan mulai dari kegigihan mereka yang mencari nafkah di tengah lautan, suka dan duka yang dirasakan, cara menangkap ikan, hingga cara pembuatan ikan asin. Tak kami sia-siakan kesempatan ini untuk meraup ilmu dari para nelayan tangguh di Pelabuhan Sumur.

Pada hari yang sama kamipun pergi mengunjungi sekolah yang ada di sana, tentunya menggunakan transportasi kapal. Terik matahari saat itu memaksa kami untuk menggunakan topi dan kacamata hitam. Belum lagi ditambah guncangan ombak yang membuat beberapa anak akhirnya mabuk laut. Di sana kami berkenalan, bertukar cerita, hingga bermain bersama, ditutup dengan pemberian baksos. Semoga barang-barang yang kami bawa bisa bermanfaat untuk teman-teman di sana. Sungguh jalinan persaudaraan begitu indah terajut dalam kesempatan ini. Sebetulnya sangat banyak aktivitas yang kami lakukan selama ekspedisi ini. Di Pulau Handeleum kami membakar ikan dan udang, eksplorasi sekitar melihat kijang dan merak, menanam mangrove dan nyamplung. Keesokan harinya ada aktivitas canoing menyusuri Sungai Cigenter, eksplorasi padang gembala Cidaon melihat kerumunan banteng dan merak. Bahkan tidak usah pergi jauh kami sudah bisa menikmati sekumpulan rusa dan babi di depan wisma dimana kami menginap.

Sampailah di hari ketiga, puncak dari ekspedisi kali ini, yaitu perjalanan menuju Cibom dimana kami akan mengeksplorasi hutan hujan tropis dan melakukan susur pantai Samudera Hindia melewati mercusuar Tanjung Layar. Tracking kali ini sudah kami persiapkan dari jau-jauh hari, mengingat medan yang ditempuh cukup berat. Perjalanan kali ini cukup panjang, yaitu selama 5 jam, cukup panjang bukan ?

Dengan membawa perbekalan makanan, minuman, obat-obatan secukupnya, alat shalat, jas hujan serta menggunakan sepatu tracking dan dilengkapi dengan kacamata hitam beserta topi, kami siap melewati rute yang telah ditetapkan. Lelah, letih, panas, dahaga pasti terasa, tapi semua terbayar saat melihat betapa agungnya karya Sang Pencipta. Jejak-jejak badak dan kotorannya kami temukan saat melintasi hutan hujan tropis. Walau tak bertemu dengan makluk besar itu, kami cukup senang bisa menemukan tanda-tanda keberadaan makhluk bercula tersebut. Yaa maklumlah badak termasuk binatang langka yang hampir punah.

Kami berjalan memasuki hutan, keluar di tepi pantai, melintasi jalanan berkubang, mendaki dan menurun, lalu melewati padang rumput, dan kembali memasuki hutan dan menyusuri pantai. Beberapa anak ada yang terpeleset dan terjatuh saat menanjak menggunakan bantuan tali. Bahkan ada yang sampai sepatunya terlepas, tanah yang basah dan licin karena terguyur hujan membuat pergerakan kami melambat. Sejuknya udara di hutan hujan tropis berbanding terbalik dengan udara pantai yang sangat terik. Pasir yang menempel di sepatu semakin membuat langkah kami semakin berat dan gontai. Ya Allah tak terbayang panasnya api neraka-Mu, sedang panas ini saja sudah membuat wajah kami memerah, kulitpun terasa terbakar, menghitam, kepala terasa sakit, bahkan matapun sampai berkunang. Namun Kau menciptakan penawar atas panasnya udara dengan pemandangan Samudera Hindia yang begitu elok, lautnya yang biru, deru ombak yang memecah bebatuan karang, pasir pantai yang begitu lembut dan putih bersih, dan kumang-kumang yang hidup di sana. Begitu agung kuasa-Mu, kami bersyukur bisa menikmati lukisan alam yang terbentang sepanjang pantai. Ijinkan kami bisa menjadi khalifah di muka bumi, menjalankan titah yang kau amanahkan pada makhluk-Mu ini.

 

Dan (ingatlah)  ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata,  “ Apakah Egkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S Al Baqarah : 30).

Oleh Dessy Ariani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *