Bu, Sedang Apa?

 

Berangkat dari penolakan. Ya, aku ditolak. Ditolak ibu atas ijin untuk sebuah pengabdian sebelas bulan ke pelosok pulau Borneo. Menjelajah pulau Borneo adalah mimpi yang masih belum terpenuhi hingga kini, dan tak tahu kapan akan terealiSAsi. Penolakan ibu tak membuat aku larut bersedih. Ridho orang tua adalah ridho Allah. Maka, rencana Allah jauh lebih indah dari rencana kita. Bersyukur, aku mengenal kalimat-kalimat indah itu sejak lama.

Benar saja, Allah memberikan ganti yang tak jauh dari impianku. Sekali lagi, rencana Allah jauh lebih indah dari rencana kita. Informasi lowongan kerja di Sekolah Alam Bekasi (SAsi). Aku mencoba mengumpulkan berkas-berkas yang disyaratkan dan mengirimkan ke alamat yang tertera di informasi. Tak lama setelah berkas itu terkirim, aku mendapat panggilan. Panggilan pertama datang ketika aku dalam perjalanan ke gunung Lawu. Terlalu mendadak, sedang aku tidak bersama orang tua. Tak ada yang dimintai pertimbangan. Maaf telah mengecewakan.

Seminggu kemudian, panggilan yang sama datang lagi. Aku menjanjikan datang. Dan untuk kedua kalinya aku sedikit mengecewakan SAsi. Waktu pertemuan yang disepakati adalah jam 09.00, sedangkan ketidaktahuanku tentang transportasi di Bekasi membuat perkiraan waktuku salah kaprah. Aku sampai di SAsi sekitar jam sebelas. Dua jam terlambat. Alhamdulillah direktur SAsi saat itu memaklumi alasanku.

Tak disangka, direkturnya satu almamater denganku. Begitu pula beberapa guru lainnya. Pembicaraan jadi tidak terlalu tegang. Aku sungguh terkesan dengan sambutan SAsi saat itu. Mungkin wajahku nampak terlalu letih, sehingga aku disuguhi tiga gelas air dingin sekaligus. Gerah karena berjam-jam di angkot dengan kondisi macetnya kota Bekasi terbayar. Aku yang mengecewakan karena sebuah keterlambatan interview, disambut dengan hal yang tak terbayangkan. Terima kasih SAsi. Kesan pertama, membuat aku jatuh hati.

Hari itu juga aku melakukan semua tes sekaligus, dari tes tertulis, micro teaching, hingga tes fisik. Tes fisiklah yang paling berkesan saat itu. Anak-anak yang bahkan belum aku kenal, menghambur ke arahku. Bertanya dengan wajah-wajah lugunya “Bu, sedang apa? Kita bantu ya”.  Oh, sejuk sekali nuansanya. Kalimat itu singkat, tapi semua kata-katanya terdengar indah. Ada banyak kata di dunia ini yang membuat kita bahagia serasa ringan menghempaskan diri di hamparan awan, dan kata-kata anak-anak itu salah satunya.

Inilah yang paling berkesan bagiku. Hari-hari pertamaku di SAsi. Sampai sekarang, aku masih ingat benar tentang siapa yang mengantar minum, yang mengantar makan, yang pertama kali aku ajak bicara, dan anak pertama yang menyapa aku di SAsi.

Aku bukan lulusan pendidikan. Bahkan ilmu kuliahku jauh dari bahasan keguruan. Aku hanya bermodal suka. Menyukai anak-anak, menyukai penjelajahan, menyukai hari pertama sebuah pertemuan. Pertemuan dengan SAsi.

Ah, maafkan jika modal itu tak cukup kuat untuk menumbuhkan cinta disini. Maafkan jika modal itu masih membuat aku apa adanya, serasa tak bergerak. Maafkan jika modal itu saja yang aku punya, seadanya, dan banyak pula orang yang memilikinya.

Semakin lama di SAsi, semakin mengenal lebih banyak orang disini, aku semakin merasa bahwa modalku tak sepadan dengan yang lainnya. Karena modal yang hanya suka belum pada titik mencinta. Sedangkan pada kata mencinta ada ikhlas yang lebih tinggi bertahta. Aku masih sangat jauh dari ikhlas yang sudah menjadi modal pada banyak yang lainnya.

Aku tak tahu akan berapa lama bertahan di SAsi. Tapi semoga, sedikit waktu yang ada membuatku berubah lebih baik, lebih berkembang. Pun bagi SAsi. Semoga keberadaanku di SAsi turut memberi perubahan lebih baik bagi SAsi. Semoga keberadaanku di SAsi bukan sebuah kesia-siaan untuk SAsi.

Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Semoga sinergi yang terjalin antara kita adalah rasa saling bermanfaat. Semoga cinta yang tumbuh menyemai hari-hari ke depan adalah cinta yang berbuah surga-Nya. Semoga pertemuan kita hingga kini selalu dalam ridho-Nya.

Tetap semangat menebar manfaat untuk umat! J

Oleh Latifah Ufairah Zahidah Zulfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *