16029 1017

Pada Parade Literasi Sekolah Alam Bekasi tahun 2017 ini para fasilitator ditugaskan untuk membuat cerita tentang pengalaman paling berkesan di Sekolah Alam Bekasi. Bagiku, setiap hari di SAsi selalu ada kesannya. Teringat sejak dua pekan pertama di SAsi saya sudah menyatakan bahwa saya jatuh cinta dengan sekolah ini.

Berpikir dan terus berpikir, mau cerita apa ya di Literasi 2017 ini. Dan akhirnya saya memutuskan untuk sedikit berbagi cerita tentang apa yang saya dapatkan saat JSAN ke IV di Surabaya yang berlangsung 13 -15 Oktober 2017.

 

“Menikah mudah, namun mendidik anak butuh ilmu

Membuat sekolah mudah, namun menjalaninya butuh ilmu”

Sebuah kalimat indah yang saya dapatkan pada dua kesempatan yang berbeda, namun dengan narasumber yang sama yakni bu Septriana Murdiani. Saat mendengar kedua kalinya membuat saya semakin mantap untuk segera membangun rumah tangga dan membangun sekolah J.

Entah mengapa kalimat itu yang selalu terngiang di telingaku bisik cintamu (maaf, salah focus jadi inget Ikke Nurjannah) J. Kalimat yang penuh makna utamanya sebagai pendidik. Pelatihan BBBC (Bahasa Bunda Bahasa Cinta) dan Refleksi JSAN ke-IV 2017 membuat pikiranku makin terbuka terkait cara mendidik dan mencintai anak didikku karena Allah.

Kembali lagi ke JSAN Surabaya, senang sekali bisa berada di tengah-tengah orang hebat. Berada di kota yang cukup panas di bagian timur pulau Jawa. Terima kasih banyak saya ucapkan kepada Pak Agus (yang memiliki akun Instagram bernama @agyakin) yang telah mempercayakan saya sebagai perwakilan dari program SM (tahun 2020 saya ikut lagi ya pak J). Dari sekian banyak kegiatan dan acara yang diselenggarakan saat itu ada tiga acara yang paling berkesan menurut saya, berikut rincian ketiga acara tersebut:

Pertama, saat berlangsung diskusi panel saya berada di panel III yang saat itu bertema “Kurikulum Sekolah Alam dan Realitas Pendidikan”. Pada panel ini terdiri dari 3 pembicara yaitu, Yuni Sari Amalia, Ph. D dengan judul, “Kurikulum Inovatif untuk Menghadapi Perkembangan Zaman”, Ustadz Nurul Khamdi dengan judul, “Kurikulum Sekolah Alam”, dan yang terakhir Bapak Martadi dengan judul pemaparan, “Menggagas Kurikulum Alternatif Sekolah Alam”.

Ustadz Nurul Khamdi, ya Beliau bernama Ustadz Nurul Khamdi yang merupakan kali kedua saya menyaksikan pemaparan beliau, yang sebelumnya SAsi pernah mengundang beliau dalam acara Parents Orientation awal tahun 2017. Entah mengapa sejak mendengar beliau bicara yang selalu mengaitkan dengan Al-Qur’an dan Hadits membuat hati ini selalu bergetar. Untuk kedua kalinya saya mendengar sebuat pernyataan dari beliau, yaitu QS. Al-Isra: 84

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا

 

Katakanlah: tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhan kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

 

Beliau menekankan paka kata “Syaakilah” yang artinya keadaan, bisa diartikan juga dengan kemampuan. Pada poin tersebut beliau menekankan bahwa mendidik anak tidak bisa disama-ratakan antara satu anak dengan anak yang lain. Yang bicara ini adalah Allah pada kitabNya. Bukan hanya sebuah ucapan manusia semata. Ketua JSAN tersebut sukses membuat pipi saya basah untuk kesekian kalinya. Terlebih saat beliau menggambarkan pendidikan Rosulullah yang sinkron dengan alam semesta, bahwa Rosulullah kesehariannya belajar bersama alam, kemudian Rosulullah belajar dengan eksplor alam hingga Nabi Ibrahim yang mencari tuhannya dengan “Critical Thinking” (salah satu core value yang dibutuhkan saat ini dan yang akan datang). Semua perkataan beliau yang selalu mengaitkan dengan zaman kerosulan membuat rasa kagum ini kian memuncak kepada beliau. Terima kasih Ustadz atas ilmunya yang luar biasa J

Kedua, saat refleksi acara JSAN ke-IV yang diisi oleh Pak Hendi dan istrinya yaitu bu Septri, beliau berdua adalah pendiri sekolah alam, refleksi inilah yang beliau sampaikan:

  1. Mari kita cek lagi pembelajaran dan sekolah kita masing-masing, kembalilah ke konsep sekolah alam yang sebenarnya
  2. Sudahkan orang tua menjadi  partner yg baik bagi sekolah kita. Ingat!!! seyogyanya pendidikan adalah kewajiban orang tua. Anak seperti apa di sekolah adalah bukti seperti apa di rumah.
  3. Education for all. Sekolah alam itu seharusnya murah. Sekolah alam adalah sekolah untuk semua sehingga ideal dengan satu desa terdapat satu sekolah alam. Dengan kondisi bagaimanapun sekolah alam bisa didirikan. Keterbatasan tidak menjadi penghalang berdirinya sekolah alam karena pembelajarannya dengan belajar bersama alam.
  4. Luruskan niat menjadi guru. Untuk apa kita ada di sini, untuk apa kita ada di sekolah ini. Niatkan karena Allah. Agar anak-anak suka dengan kita. Mengajar jangan hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan menerima gaji. Karena sebesar apa pun gajinya, tidak bisa membayar guru-guru yang selalu mendoakan siswanya untuk masuk surga bersamanya. Minimal, seorang guru mendoakan muridnya tiga kali sebelum mengajar. Pertama saat sholat malam, sebut nama anak didik kita pada sepertiga malam terakhir, mohon bantuan pada Allah agar dibukakan pikiran mereka, hati mereka agar semuanya menjadi mudah untuk mereka. Kedua, saat hendak berangkat ke sekolah, minta kepada Allah, “Ya Allah saat ini hamba akan berangkat untuk mendidik anak-anak didik hamba. Ya Allah beri hamba kekuatan dan kesabaran Ya Allah”. Dan yang ketiga ketika sampai sekolah dan hendak mengajar katakan kepada Allah, “Ya Allah, bantu hamba untuk membuat anak-anak didik paham dengan apa yang hamba sampaikan. Ya Allah luruskan niat hamba untuk mendidik murid-murid hamba semata-mata hanya karena Engkau Ya Allah”.

 

Secara singkat itulah yang disampaikan oleh Pak Hendi dan bu Septri menyampaikan agar kita jangan pernah berhenti untuk menuntut ilmu. Dan lagi, pipi ini basah kembali saat mendengarnya, bahkan saat mengetik cerita ini pun hati gemetar dan mata berkaca-kaca.

Ya Allah bantu hamba dan seluruh guru di SAsi, seluruh guru di Sekolah alam manapun, seluruh guru di muka bumi ini untuk mendidik murid-murid hanya karenaMu Ya Allah.

Jazakumullah Khoiron Khatsiron Pak Hendi dan bu Septri, penyampaian bapak dan ibu sangat luar biasa, dengan mengebu-gebu, dengan semangat karena Allah, melelehkan hati kami, menularkan kepada kami apa yang engkau perjuangkan.

Ketiga, adalah saat di jembatan Suramadu, cerita singkat, unik, namun penuh makna. Biarlah Allah dan jembatan Suramadu menjadi saksi perbincangan kami berenam J

 

Oleh Des Kurniasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *